• Produksi Pabrik Pakan Ikan Jambi Masih Minim

    0

         Jambi, jurnalsumatra.com – Produksi pabrik pakan ikan milik Pemerintah Provinsi Jambi masih minim karena keterbatasan bahan baku sehingga belum mampu memenuhi kebutuhan pembudidaya ikan di daerah itu khususnya di kawasan minapolitan.
    Kepala Dinas Perikanan Provinsi Jambi, Saifuddin di Jambi, Senin, mengatakan, pabrik pakan ikan dan mesin pembuatan pakan ikan milik masyarakat produksinya masih jauh dari cukup untuk melayani kebutuhan petani ikan.
    “Pabrik ikan milik pemerintah baru mampu memproduksi pakan sekitar dua ton per hari, sementara kebutuhan petani ikan khususnya di kawasan minapolitan mencapai lima ton per hari,” kata Saifuddin.
    Menurut dia, pabrik pakan ikan milik Pemprov Jambi di Kecamatan Sungai Gelam dan mesin pembuatan pakan milik masyarakat kelompok tani di Kecamatan Kumpeh, Muarojambi, masih berfungsi. Namun produksi minim karena bahan baku sulit di dapat.

         Dia menjelaskan, bahan baku yang digunakan untuk membuat pakan ikan adalah dedak, bungkil kelapa dan tepung ikan. Namun diantara itu tepung ikan adalah bahan baku yang sulit dicari.
    “Tepung ikan dibuat dari ikan luncah yang hanya bisa ditangkap dengan alat trwal. Namun sejak dikeluarkannya Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan beberapa waktu lalu, maka alat trwal itu tidak boleh lagi digunakan. Dan kita harus razia terus untuk menertibkan penggunaan trwal itu,” katanya menjelaskan.
    Pakan ikan yang sudah dibuat, katanya dijual ke petani-petani ikan dengan harga 4.700 per kilogram. Harga itu sangat membantu petani ikan karena pakan yang dijual di toko-toko bisa mencapai Rp11 ribu per kilogram.
    Sebagai langkah awal untuk menyelesaikan persoalan itu, katanya harus ada bahan baku lain pengganti tepung ikan. Pihaknya sudah mengirimkan surat ke Badan Penelitian Pembangunan Daerah (Balitbangda) untuk meneliti bahan apa yang bisa menggantikan tepung ikan.

         Salah satunya yang bisa menjadi pengganti menurut Saifuddin adalah cangkang sawit. Namun cangkang sawit itu dijual dan punya harga dan bisa didapatkan dari CSR perusahaan yang berjumlah 10 persen.
    “Nanti akan dibentuk tim dan dibuat Pergub. Nanti Pak Gubernur akan panggil perusahaan untuk memberikan CSR dalam bentuk cangkang sawit. Sehingga kita tak butuh tepung ikan lagi nantinya untuk bahan baku,” katanya.
    Namun untuk jangka pendeknya, sejalan dengan program Nasional Gerakan Pakan Mandiri, Kementrian akan memberikan bantuan dana kepada kelompok petani ikan. Dana itu bisa digunakan untuk membeli bahan baku untuk pembuatan pakan, katanya menambahkan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com