• Pertamina Serahkan Kasus Solar “Ilegal” Ke Polisi

    0

         Bojonegoro, jurnalsumatra.com – Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Jawa Tengah, menyerahkan kasus penangkapan solar “ilegal” sekitar 5.000 liter dari hasil penyulingan minyak mentah produksi lapangan sumur minyak tradisional di Kecamatan Kedewan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, ke kepolisian setempat, Senin.
    “Kasus penangkapan pengiriman solar “ilegal” tanpa dilengkapi izin, kami serahkan sepenuhnya kepada kepolisian resor (Polres),” kata “Field Manager” Pertamina EP Asset 4 Field Cepu, Jawa Tengah, Agus Amperiyanto, di Bojonegoro, Senin.

         Ia menjelaskan penangkapan pengiriman solar “ilegal” dilakukan tim gabungan kepolisian resor (polres) dan Subden Pom Bojonegoro, di Jalan Raya di Desa Tikusan, Kecamatan Kapas, Senin sekitar pukul 02.00 WIB.
    “Barang bukti solar sekarang diamankan di Mapolres Bojonegoro,” jelas dia.
    Dari keterangan yang diperoleh, solar “ilegal” sekitar 5.000 liter itu, diangkut dengan truk, Nomor Pol N 8158 DK, yang dikemudikan Myi (45), warga  Desa Kebonagung, Kecamatan Pakisaji, Malang.
    Dari hasil pengusutan polisi, Myi mengaku mengangkut solar “ilegal” atas perintah seorang anggota TNI dengan nama EV (35), asal Malang, yang bertugas di Surabaya, dengan ongkos Rp300.000.
    Solar itu diangkut dengan truk, dari seorang pengepul solar sulingan di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, untuk dibawa ke Malang.

         Ketika tertangkap, pengiriman solar dengan truk dikawal seorang anggota TNI yang bertugas di Surabaya IA.
    “Solar “ilegal” yang dibeli dari seorang pengepul di Desa Wonocolo, Kecamatan Kedewan, itu akan dikirim ke Malang,” ucap Agus, menegaskan.
    Bahkan, ia memperkirakan solar “ilegal” itu, tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan BBM industri di Malang, tapi diduga akan dikirim ke luar Jawa.
    “Yang jelas solar “ilegal” itu dibeli dari penambangan tradisional di bawah harga solar di SPBU,” tandasnya.

         Ia mengungkapkan produksi sumur minyak tradisional di sejumlah desa di Kecamatan Kedewan, lebih banyak yang disuling secara tradisional, dibandingkan dengan yang disetorkan kepada Pertamina EP Asset 4 Field Cepu.
    “Jumlah minyak mentah yang disetorkan melalui paguyuban penambang rata-rata hanya sekitar 200 barel per hari,” ucapnya.
    Padahal, sesuai data produksi minyak mentah di Desa Wonocolo, Hargomulyo dan Beji, Kecamatan Kedewan, dengan jumlah 722 titik sumur minyak, rata-rata berkisar 1.000-1.200 barel per hari.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com