• Perhutani Banyumas Tingkatkan Pengawasan Antisipasi Pencurian Anggrek

    0

    Purwokerto, jurnalsumatra.com – Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan Banyumas Timur, Jawa Tengah, meningkatkan pengawasan di kawasan hutan lereng Gunung Slamet untuk mengantisipasi kasus pencurian tanaman anggrek dan penjalin cacing.
    “Setelah menerima laporan, kami langsung telusuri dan memang benar ada pengambilan tanaman anggrek yang berlebihan seperti yang ditangkap oleh Jagabaya (Jagabaya Tourism Independent Security Baturraden atau petugas pengamanan wisatawan Baturraden, red.) waktu itu,” kata Administrator Perum Perhutani KPH Banyumas Timur Wawan Triwibowo di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Kamis.
    Oleh karena

    itu, kata dia, pihaknya telah menginstruksikan seluruh personel Perhutani di lapangan untuk meningkatkan pengawasan guna mengantisipasi aksi pencurian tanaman anggrek dan penjalin cacing (tanaman sejenis rotan, red.) itu.
    Menurut dia, peningkatan pengawasan tersebut perlu dilakukan karena selama ini, Perhutani lebih fokus terhadap kasus pembalakan liar pohon yang marak terjadi di kawasan hutan lereng Gunung Slamet.
    “Setelah relatif aman dari ‘illegal logging’ (pembalakan liar, red.) malah keanekaragaman hayati ini yang terancam. Apalagi kalau mengambilnya melampaui kemampuan tumbuh anggrek tersebut, yang pasti akan mengganggu kelestarian yang ada di sana,” katanya.
    Lebih lanjut, Wawan mengaku sedang mempelajari jenis-jenis anggrek yang diambil, apakah tanaman itu termasuk dalam kategori flora yang dilindungi atau tidak dilindungi.
    Ia mengatakan jika tanaman anggrek yang diambil itu termasuk jenis flora yang dilindungi, pihaknya akan segera melakukan sosialisasi kepada masyarakat karena dengan mengambil tanaman tersebut dapat dijerat hukum.
    “Tadi saya sudah instruksikan bagian pengamanan untuk melakukan patroli ke atas (kawasan hutan di lereng Gunung Slamet, red.) untuk pengecekan. Ini karena ada beberapa jalur naik, baik di wilayah Baturraden maupun Kalipagu,” katanya.
    Selain itu, kata dia, pihaknya juga akan meminta Ketua Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Kalipagu agar lebih selektif dalam memantau warga yang mendaki Gunung Slamet melalui jalur Kalipagu.
    Dalam kesempatan terpisah, Jagabaya Tourism Independent Security Baturraden Warjito mengatakan bahwa dalam waktu satu bulan terakhir, pihaknya menangkap tiga kelompok pelaku pencurian tanaman anggrek dan penjalin cacing dari kawasan hutan lereng Gunung Slamet.
    “Mereka berasal dari Garut, Bandung, serta gabungan Tasikmalaya dan Bandung. Jumlah tanaman yang diambil sangat banyak, ada yang sampai membawa tiga karung,” katanya.
    Menurut dia, karung berisi tanaman anggrek dan penjalin cacing tersebut selanjutnya diserahkan kepada pengelola Kebun Raya Baturraden.
    Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa setelah diinterogasi, kawanan pencuri itu mengaku sengaja mengambil penjalin cacing dan tanaman anggrek dari hutan Baturraden (lereng selatan Gunung Slamet, red.) yang jumlahnya lebih dari 100 jenis untuk dijual kembali di Bandung dengan harga berkisar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu per batang untuk tanaman anggrek dan Rp100 ribu hingga Rp1 juta per batang untuk penjalin cacing.
    Padahal, kata dia, harga tanaman anggrek di Baturraden hanya berkisar Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per batang.
    “Bahkan, mereka mengaku ada orang yang siap menampung untuk diekspor ke Jepang,” katanya.
    Menurut dia, kawanan pencuri itu naik ke kawasan hutan lereng Gunung Slamet melalui jalur-jalur yang sulit terpantau seperti Pancuran Tujuh dan Kalipagu.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com