• Penutupan Lokalisasi Di Kotawaringin Harus Disertai Solusi

    0

    Sampit, Kalteng, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, diharapkan sudah menyiapkan solusi sebelum menutup lokalisasi di daerah itu agar tidak menimbulkan masalah baru.
    “Sejak dari awal saya sepakat dan malah sangat mendukung lokalisasi ditutup selamanya. Namun di sana itu kan ada masyarakatnya, jadi pemerintah terlebih dulu harus menyiapkan solusi untuk mereka,” kata Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kotawaringin Timur, HM Thamrin Noor di Sampit, Senin.
    Thamrin mengatakan, banyaknya aspirasi masyarakat yang menginginkan lokalisasi ditutup karena melihat dampak negatif yang timbul. Aktivitas di lokalisasi rawan penggunaan narkoba, tindak kekerasan, penularan penyakit HIV/AIDS hingga moral masyarakat, khususnya generasi muda.
    Di sisi lain, pekerja seks komersial yang menghuni lokalisasi tetap harus diperlakukan layaknya warga pada umumnya. Pemerintah daerah sudah harus memikirkan nasib mereka jika lokalisasi ditutup, apalagi kini juga banyak keluarga yang tinggal di lokalisasi.
    “Jangan sampai nanti muncul masalah baru. Harus ada solusi, apakah para PSK dipulangkan ke daerah asal mereka, diberi keterampilan dan dibantu membuka usaha, atau seperti apa. Ini yang harus dipikirkan terlebih dulu. Mereka juga manusia yang harus dihargai hak-haknya,” kata pria yang pernah menjadi Wakil Bupati Kotawaringin Timur.
    Wacana penutupan lokalisasi, ditegaskan Bupati H Supian Hadi saat pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur’an ke-47 tingkat kabupaten di Kecamatan Telaga Antang pada Sabtu (16/4) malam lalu, namun dia belum memastikan waktu penutupan. Rencana penutupan tempat prostitusi itu menimbangkan banyak faktor, termasuk banyaknya aspirasi dari masyarakat sejak lama.
    Data Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Kotawaringin Timur, ada sebanyak 274 pekerja seks komersial yang saat ini menghuni tiga lokalisasi. Jumlah pekerja seks di lokalisasi km 12 Jalan Jenderal Sudirman Kelurahan Pasir Putih Kecamatan Mentawa Baru Ketapang sebanyak 196 orang, lokalisasi di Desa Mekar Jaya Kecamatan Parenggean sebanyak 53 orang dan lokalisasi Tangar Kecamatan Mentaya Hulu sebanyak 25 orang sehingga total 274 orang.
    Pendataan dilakukan bertahap pada Februari hingga Maret ini.
    Petugas mendata satu persatu pekerja seks yang menghuni di setiap rumah atau tempat karaoke yang ada di tiga lokalisasi tersebut. Sebagian pekerja seks memilih pulang kampung karena makin sepinya tamu.
    “Pembinaan juga kami lakukan dengan memberikan berbagai pelatihan keterampilan sebagai bekal. Harapannya, mereka bisa meninggalkan pekerjaan ini dan memulai hidup baru dengan membuka usaha berbekal keterampilan yang mereka miliki itu,” kata Kepala Dinsosnakertrans Kotawaringin Timur, Bima Ekawardhana. (anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com