• Pembunuh Supir Angkot Tetap Dituntut 20 Tahun

    0

         Ambon, jurnalsumatra.com – Jaksa penuntut umum(JPU) Kejati Maluku tetap meminta majelis hakim Pengadilan Negeri Ambon menjatuhkan vonis  terhadap terdakwa pembunuh supir angkot jurusan terminal Mardika – Air Salobar, kota Ambon, Yunex Frans (38) selama 20 tahun penjara.
    “Kami tetap pada tuntutan 20 tahun penjara karena unsur-unsur pidana dalam pasal 340 KUH Pidana tengtang pembunuhan berencana sudah terpenuhi,” kata JPU, Ester Wattimury dan Sania, di Ambon, Senin.
    Penjelasan jaksa disampaikan dalam sidang lanjutan dipimpin ketua majelis hakim PN setempat, Suko Harsono dengan agenda mendengarkan replik JPU atas pembelaan tim penasihat hukum terdakwa dikoordinir Alfaris Laturake.

         Menurut JPU, terdakwa pada malam tertanggal 3 Agustus 2015 sudah berupaya mencari korban Terry Sopaheluwakan ke rumahnya,  namun tidak berhasil dan yang didapati hanyalah isteri korban.
    Terdakwa kemudian berpesan kepada isteri korban kalau dirinya akan membunuh Terry Sopaheluwakan karena diduga telah melakukan perselingkuhan dengan isterinya.
    Kemudian pada 4 Agustus 2015, kata JPU, terdakwa mencari korban sambil membawa sebilah pisau menuju terminal Mardika dan mendapati mobil angkot milik korban. Hanya saja, saat itu yang mengemudikannya adalah supir bantu bernama Yosi Mustamu.
    Saksi Yulius Ratuliu juga menjelaskan, terdakwa menitipkan sebilah pisau dan diselipkan ke pinggangnya lalu mencari mobil Angkot trayek Mardika-Air Salabor yang dikemudian korban.
    Namun, ternyata korban sedang berada di rumahnya di kawasan Gunung Nona, sedangkan Angkot dikemudikan saksi Kosye Mustamu.

         Mereka kemudian berjalan dari terminal Mardika dan berhenti di depan hotel Sahabat dan berhenti di situ.
    “Saya disuruh terdakwa mencabut kabel accu mobil agar terkesan rusak atau mogok, selanjutnya korban ditelpon oleh saksi Kosye ke tempat kejadian perkara,” jelas saksi.
    Ketika korban tiba, terdakwa mencabut pisau dari pinggang saksi dan melakukan penusukan terhadap korban sebanyak tujuh kali.
    Oknum pelaku selanjutnya berlari ke kompleks kantor BNI 46 Cabang Ambon dan menyerahkan diri kepada polisi yang sedang bertugas di sana.

         Sementara korban dibantu warga ke Rumah Sakit Sumber Hidup, namun akhirnya meninggal dunia akibat luka tusuk di bagian perut, dada, pinggang, tangan, serta paha.
    “Karena unsur-unsur pidana dalam pasal 340 KUH Pidana sudah terpenuhi, maka kami tetap pada tuntutan majelis hakim menjatuhkan vonis 20 tahun penjara dan menolak pembelaan tim penasihat hukum terdakwa yang meminta majelis hakim membebaskannya dari segala dakwaan,” ujar JPU.
    Majelis hakim menunda persidangan hingga Kamis (21/4) dengan agenda mendengarkan tanggapan tim penasihat hukum atas replik JPU.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com