• Masyarakat Cari Jalan Alternatif Menuju Pura Besakih

    0

         Denpasar, jurnalsumatra.com – Masyarakat yang akan melakukan persembahyangan ke Pura Agung Besakih, Kabupaten Karangasem untuk mencari jalan alternatif karena Desa Pakraman Nongan pada Minggu (10/4) menyelenggarakan ritual keagamaan “Memasar Ngusaba Desa”, sehingga selama upacara tersebut lalu lintas mangalami macet.
    “Kami mohon maaf kepada warga masyarakat yang melewati jalur Desa Pakraman Nongan, karena arus lalu lintas sedikit macet, sebab di desa kami menyelenggarakan prosesi ritual ‘Memasar Ngusaba Desa’,” kata Bendesa Pakraman Nongan Gusti Ngurah Wiryanata di Karangasem, Bali, Sabtu.

         Ia mengharapkan kepada masyarakat untuk mencari jalur alternatif bagi warga yang akan melakukan persembahyangan ke Pura Agung Besakih. Jalur tersebut bisa melalui arah Kintamani, Kabupaten Bangli atau lewat Klungkung melalui Sidemen, Kabupaten Karangasem.
    “Kami sudah berkoordinasi dengan lembaga terkait, baik kepolisian dan Dinas Perhubungan maupun instansi lain, sehingga arus lalu lintas di sepanjang kawasan Desa Pakraman Nongan bisa dialihkan ke jalur alternatif,” ujarnya.
    Ngurah Wiryanata mengatakan lalu lintas sepanjang Desa Pakraman Nongan adalah jalur utama menuju Pura Besakih dari Klungkung. Karena itu pihaknya mohon maaf dan masyarakat memakhlumi kondisi tersebut.
    “Lalu lintas di depan Pasar Nongan tersebut atau tempat berlangsungnya upacara ritual itu akan mulai diatur sejak Minggu (10/4) pukul 12.00 Wita. Kegiatan ritual ‘Ngusaba Desa” Pura Dalem Kupa dan Pura Dalem Nongan selama empat hari akan dilakukan upacara ‘Penyineban’ Ida Batara Ratu Dalem pada Selasa (12/4),” ucapnya.
    Ngurah Wiryanata lebih lanjut mengatakan upacara ritual keagamaan “Ngusaba Desa” tersebut sudah dilakukan secara turun-temurun, sejak berdirinya Desa Pakraman Nongan. Sehingga sebagai penerus dari leluhur maka wajib untuk melakukan dan melestarikan apa yang menjadi warisan para leluhur itu.

         “Kami sebagai generasi penerus tetap malakukan upacara tersebut. Karena upacara ritual ‘Ngusaba Desa’ bertujuan sebagai ungkapan puji syukur kepada Ida Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa) atas waranugraha yang telah dilimpahkan kepada krama (warga) Nongan khususnya, dan masyarakat Pulau Dewata pada umumnya,” ujar Ngurah Wiryanata.
    Ia menjelaskan tatanan upacara “Ngusaba Desa” Nongan diawali dengan upacara “mecaru” di “tulak tangul” atau pintu gerbang setra adat setempat Rabu (6/4), kemudian Sabtu (9/4) di Pura Dalem Kupa dan Pura Dalem Nongan dengan melaksanakan piodalan oleh “pengemong” (warga banjar) yang mendapat giliran melakukan serangkaian upacara piodalan tersebut. Dan pada Minggu (10/4) dilakukan prosesi ‘memasar’ di Pura Pesamuan Agung Nongan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com