• Kekeringan Berdampak Luas Hingga Ternak Peliharaan

    0

        Kupang, jurnalsumatra.com – Kekeringan yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur saat ini telah membawa dampak buruk tidak saja kepada manusia tetapi juga hewan atau ternak peliharaan seperti sapi, kerbau, kuda dan kambing sehingga perlu langkah konkrit untuk mengatasinya.
    Misalnya ratusan ekor sapi bantuan pemerintah pusat lewat dana “on top” di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) ditemukan mati akibat kekurangan air dan pakan karena dampak dari kekeringan yang tengah melanda ini,” kata Anggota DPRD NTT Jefry Un Banunaek dari Soe ibu kota Kabupoaten TTS, Rabu.
    Jefri yang tengah melakukan reses ke daerah pemilihannya itu mengatakan jika hal ini tidak segera ditanggapi oleh pemerintah kabupaten maupun provinsi maka bantuan ternak tersebut akan mubasir.
    “Apa yang kami temukan di lapangan sangat memprihatinkan, di mana kami temukan banyak sekali ternak masyarakat yang mati akibat kekurangan air atau kekeringan saat ini. Kami temukan ada ratusan ekor sapi bantuan pemerintah pusat yang mati. Sapi bantuan ini tersebar di delapan kelompok di Kecamatan Molo Barat.

        Menurut Jefry, dari hasil pantauannya di lapangan dan komunikasi dengan para ketua kelompok, sapi bantuan pemerintah meregang nyawa akibat kekurangan pakan dan air.
    Dia mengatakan, jika hal ini tidak segera ditindaklanjuti dengan langkah antisipatif maka bukan tidak mungkin ternak sapi bantuan ini akan mati semuanya.
    “Masing-masing kelopok diberi bantuan 110 ekor sapi terdiri dari 100 betina dan 10 ekor jantan. Contohnya di kelompok Moen Mese, Desa Salbait,  Kecamatan Molo Barat, dari 110 ekor, tinggal 67 ekor yang masih hidup. Ini hasil wawancara kami dengan Ketua Kelompok Moen Mese, Melky Batu,” katanya.
    Sapi bantuan ini lanjut Jefry, rencananya akan digulirkan ke kelompok lain yang belum mendapatkan bantuan sementara sapi yang lainnya akan dibagi hasil dengan kelompok penerima.
    “Bagaimana bisa digulirkan kalau kondisinya seperti ini, saya pikir ini sudah darurat sehingga perlu penanganan sesegera mungkin,” katanya.
    Melihat kondisi ini, dirinya meminta pemerintah Kabupaten TTS maupun Pemerintah Provinsi NTT lewat dinas peternakannya masing-masing untuk segera memberi bantuan kepada kelompok peternak.
    “Bantuan berupa air dan pakan saat ini sangat dibutuhkan oleh para peternak untuk keberlanjutan kehidupan piaraan mereka,” katanya.

        Seorang peternak Melky Batu yang dihubungi terpisah, membenarkan jika ternak sapi yang dikelola oleh kelompoknya sudah banyak yang mati. “Benar pak, sekarang hanya sisa 67 ekor yang hidup, yang lain sudah mati, Kami susah air dan makanan ternak,” katanya.
    Dia mengaku kesulitan untuk mengadukan hal ini sebab para petugas dari dinas peternakan kabupaten hanya datang mengecek berapa jumlah sapi yang telah mati.
    “Dari dinas hanya datang tanya berapa yang mati tapi tidak ada bantuan atau jalan keluar bagi kami. Kami rasa susah dengan kondisi ini,” katanya.
    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Tini Thadeus menyatakan bencana kekeringan diperkirakan akan meluas dari semula hanya melanda sekitar 270 desa bisa mencapai 315 dari total 3.248 desa di NTT.
    “Artinya, hanya ada 315 dari 3.248 desa/kelurahan yang tersebar di 303 kecamatan dalam 21 kabupaten provinsi ini yang telah dilanda kekeringan akibat el nino,” katanya.
    Sehingga pemerintah provinsi pun tengah melakukan berbgai langkah konkrit seperti pengadanaan sumber air bersih guna disalurkan kepada warga di desa-desa yang dilanda kekeringan.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com