• Kebakaran Akibat Masyarakat Kurang Pahami SLO

    0

    Denpasar, jurnalsumatra.com- Bali sering dikagetkan adanya kebakaran yang umumnya diduga akibat  arus pendek (konsletting) listrik, hal ini terjadi antara lain masyarakat kurang memahami Sertifikat Laik Operasi (SLO)  Instalasi Pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah bagi instalasi listrik yang sudah memenuhi standar
    “Kita memang hampir setiap hari diseguhi pemberitaan terjadinya kebakaran rumah tinggal, pasar tradisional atau perkantoran yang permanen,” kata Manajer Administrasi dan Keuangan PT Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional  (PPILN) Lembaga Inspeksi Teknik Tegangan Rendah Wilayah Bali, Ketut Sudarta di Denpasar, Jumat.
    Ia mengakui hal ini terjadi karena masih rendahnya pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pelaksanaan SLO  Instalasi Pemanfaatan tenaga listrik tegangan rendah bagi instalasi listrik yang sudah memenuhi standar dan semua pihak yang memangku kepentingan menggencarkan kegiatan sosialisasi yang menyangkut masalah SLO.
    “Lembaga ini di Wilayah Bali memang baru terbentuk sejak tiga tahun lalu, oleh sebab itu perlu lebih kerja keras dalam menyosialisasaikan tentang pentingnya SLO, dan PLN tidak menyambungkan arus listrik jika calon konsumennya belum mampu menunjukkan SLO,” ujarnya.
    Jika hal itu sudah mendapat perhatian semua pihak utamanya para konsumen, diyakini kasus-kasus kebakaran yang sering terjadi dan mengakibatkan kerugian material bahkan mengancam terhadap keselamatan jiwa akibat arus pendek listrik bisa ditekan sekecil mungkin.
    “Kami dari lembaga teknis ini siap melayani masyarakat sesuai Keputusan Menteri ESDM No. 484/20/DJL-4/2015 tanggal 10 Desember 2015  tentang penetapan PT Perintis Perlindungan Instalasi Listrik Nasional sebagai Lembaga Inspeksi Teknik Tegangan Rendah, dan tentu perlu dukungan pihak terkait,” ujar  Ketut Sudarta.
    Masyarakat Bali belakangan ini  sering dikagetkan dengan suguhan pemberitaan surat kabar atau media sosial yang mengabarkan adanya kebakaran hebat, seperti halnya dua pasar tradisional yang memiliki sejarah unik di daerah ini.
    Tidak itu saja pasar tradisional Desa Adat Legian, Kuta Badung,  toko yang biasa memajangkan aneka barang seni di daerah Gianyar juga turut dilalap si jago merah dan juga sebuah gudang kayu dan furniture milik Ni Luh Netri (50) di Banjar Banyubiru Kecamatan Negara, Kabupaten Jembrana, terbakar, Senin (28/3) subuh.
    Sementara kedua pasar tradisioanl yang dinilai unik dan memiliki nilai sejarah adalah Pasar Badung yang ada di tengah-tengah kota Denpasar merupakan pasar tradisional terbesar di Bali, Senin (29/2) kembali terbakar. Peristiwa naas itu adalah yang ketiga kalinya dalam kurun waktu 25 tahun dilalap si jago merah.
    Kemudian Pasar Ubud merupakan pasar seni yang memiliki lokasi sangat strategis di kota perkampungan seniman di Bali. Tepat di depan pasar Ubud terdapat Puri Agung yaitu sebuah bangunan peninggalan  pemerintah kerajaan Ubud di masa lampau.
    Meski terkenal sebagai pasar seni sejatinya pasar Ubud adalah pasar tradisional yang juga menjual barang seni khas Bali. Pasar Ubud dan lingkungan sekitarnya merupakan cagar  budaya yang masih mempertahankan suasana pedesaan tradisional Bali.
    Pasar Ubud memang  sejak dulu masih menginspirasi banyak seniman besar. yang terbaru ialah dipilihnya kawasan Ubud termasuk Pasar Ubud sebagai lokasi pengambilan gambar film Eat, Pray, Love yang dibintangi oleh Julia Roberts.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com