• Jembatan Mawaddah III Retak karena Kerap Ditabrak Ponton

    0

    4fb38b9c-96fe-4bd1-80b5-8c313b234a8fINDRALAYA, jurnalsumatra.com – Jembatan Mawaddah III yang menghubungkan antara Desa Sungai Rotan dan Desa Sejangko Kecamatan Rantau Panjang Kabupaten Ogan Ilir mengalami retak bahkan terjadi pergeseran antara besi penyangga satu ke penyangga lain akibat dari hantaman Ponton pengangkut pasir yang sering melintas di seputaran Sungai Ogan.

    Dan bukan hanya itu, banyak masyarakat diseputaran Sungai Ogan yang mengeluhkan dengan bisingnya suara ponton yang lalu lalang hampir setiap malam. Menurutnya suara bising tersebut sangat menggangu apalagi saat tengah malam.

    “sangat menggangu, terutama pada tengah malam, pas enak-enaknya tidur akhirnya terbangun oleh mendengar suara ponton tadi” Imbuhnya.

    Menyikapi hal tersebut, Anggota DPRD OI Suharmawinata menegaskan bahwa insiden jembatan ditabrak ponton sudah menjadi rahasia umum. Bahkan bukan saja jembatan Mawaddah III, melainkan seluruh jembatan yang ada di Ogan Ilir, seperti Jembatan Tanjung Raja.

    “Kami mendesak agar pemilik ponton yang mengangkut pasir illegal segera bertanggungjawab memperbaiki jembatan yang ditabrak itu. Mereka jangan hanya mengambil keuntungan dengan menggeruk pasir di OI, tapi juga harus dapat menjaga aset milik pemerintah,”Ujar politisi Nasdem OI ini.

    Menurutnya, dua pekan lalu pihaknya bersama dengan anggota DPRD OI lainnya melakukan reses ke Kecamatan Rantau Panjang OI. Laporan dari warga setempat kalau jembatan Mawaddah kerapkali ditabrak ponton pengangkut pasir.

    Namun sayang, sampai saat ini belum ada itikad baik pemilik ponton untuk merehabilitasi atau memperbaiki jembatan kebanggaan warga Kecamatan Rantau Panjang tersebut.

    “Pemilik ponton dan tugboat yang menabrak Jembatan Mawaddah adalah MS Karya Mandiri. Tentu manajemen MS Karya Mandiri harus bertanggungjawab untuk memperbaikinya,”Terangnya.

    Dia juga meminta pihak terkait dalam hal ini Dispenda OI untuk dapat menindak tegas pemilik ponton yang enggan memperbaiki jembatan yang telah ditabrak.

    “Aturan untuk menambang pasir saat ini belum jelas. Artinya penambangan pasir yang dilakukan jelas-jelas illegal. Kami tidak ingin jawaban seremonial dari Dispenda dan berharap Bupati segera mengambil sikap,”Tukasnya. (Edi)

     

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com