• Bank Indonesia Adakan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

    0
    Bank Indonesia Adakan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

    Bank Indonesia Adakan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional

    Palembang, jurnalsumatra.com-Perekonomian Sumatera Selatan tahun 2015 tumbuh positif meskipun melambat ditengah ketidak pastian kondisi ekonomi global dan perekonomian dunia yang masih lesuh. Secara keseluruhan tahun 2015 tumbuh sebesar 4,50%  (yoy), sedikit melambat jika dibandingkan di tahun 2014 yang tumbuh sebesar 4,70% (yoy).

    Dikatakan Hamid Ponco Wibowo Direktur Kepala Perwakilan Bank Indonesia Propinsi Sumatera Selatan kepada jurnalsumatra.com “Tiga sektor utama yang  menjadi penopang pertumbuhan yaitu sektor pertambangan, sektor industri, dan sektor pertanian.” Jelasnya.

    “Sedangkan, Sektor pertambangan dan penggalian (pertambangan) tumbuh meningkat sebesar 4,41% (yoy), sementara sektor industri pengolahan (industri) tumbuh meningkat sebesar 5,41% (yoy). Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan (pertanian) tumbuh melambat sebesar 3,47% (yoy).” Tambahnya. usai pemaparan di Novotel Palembang.

    Dari sisi permintaan, komponen konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah masih menjadi penopang  pertumbuhan dengan tumbuh sebesar 4,42% dan 4,50% (yoy). Perlambatan pertumbuhan dialami oleh investasi yang tumbuh sebesar 0,03% (yoy). sedangkan kinerja ekspor masih mengalami kontraksi akibat turunnya  permintaan komoditas perkebunan andalan Sumatera Selatan dari negara-negara tujuan ekspor. Di lain pihak, impor  mengalami kenaikan signifikan seiring dengan tingginya permintaan kebutuhan akan barang modal di dalam negeri  untuk mendukung program pembangunan infrastruktur dan investasi lainnya.

    Menurutnya, di triwulan IV 2015, ekonomi Sumatera Selatan tumbuh melambat sebesar 3,94% (yoy). Perlambatan pertumbuhan terutama disebabkan oleh tren penurunan ekspor yang masih berlanjut sehingga berdampak pada daya beli  masyarakat, yang terlihat dari pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang masih tumbuh melambat. Sejalan dengan hal tersebut, dari sisi produksi sektor yang mengalami perlambatan pertumbuhan adalah sektor industri, sektor  pertambangan, dan sektor pertanian. Bagan 1. Perkembangan PDRB Sumatera Selatan Realisasi inflasi di akhir tahun 2015 tercatat terkendali

    Sementara itu, realisasi inflasi Sumatera Selatan di tahun 2015 sebesar 3,10% (yoy), turun dibandingkan dengan 2014 yang sebesar 8,48% (yoy). Realisasi inflasi Sumatera Selatan tahun 2015 tersebut lebih rendah dibandingkan  realisasi inflasi nasional yang sebesar 3,35% (yoy) dan masih berada dalam kisaran target inflasi nasional sebesar  4%±1%.

    Inflasi kelompok administered prices di 2015 sebesar -0,33% (yoy), turun signifikan dibandingkan 2014 yang mencapai 18,61% (yoy). Turunnya tekanan inflasi kelompok administered prices terutama disebabkan oleh turunnya harga Pertamax dan Solar di bulan Oktober 2015 dan kembali normalnya efek dari kenaikan harga BBM di akhir tahun sebelumnya. Komoditas bensin menjadi komoditas penyumbang deflasi tertinggi di 2015 dengan andil sebesar  -0,50% (yoy), turun dibandingkan triwulan sebelumnya yang mencapai 1,19% (yoy). Begitu pula halnya dengan solar yang menjadi penyumbang deflasi di triwulan IV 2015 dengan andil sebesar -0,02% (yoy).

    Lebih lanjut dikatakannya. turunnya tekanan inflasi  administered prices ini juga tidak lepas dari tingginya basis inflasi di tahun lalu dimana inflasi bulan Desember 2014 melambung sangat tinggi mencapai 8,48% (yoy) akibat kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak oleh pemerintah. Dan bahan bakar minyak secara langsung memberikan dampak pada penurunan tarif angkutan dalam kota. Andil inflasi angkutan dalam kota sebesar -0,31% (yoy), turun dibandingkan tahun lalu yang mencapai 1,10% (yoy). Sementara itu, kondisi serupa terjadi pada tarif angkutan udara yang andil inflasinya juga turun dari 0,20% (yoy) menjadi -0,03% (yoy).

    Selain itu, LPG juga mengalami koreksi harga yang memberikan kontribusi pada rendahnya inflasi administered prices. Andil inflasi bahan bakar rumah tangga menurun dari 0,41% (yoy) menjadi 0,31% (yoy). Turunnya tarif listrik pada pelanggan listrik dengan daya di atas 2200VA memberikan dampak pada turunnya andil inflasi tarif listrik di tahun ini yaitu sebesar 0,09% (yoy).

    Inflasi kelompok inti (core ) 2015 mencapai 4,19% (yoy) lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang sebesar 3,87% (yoy). Naiknya harga bahan pangan memberikan dampak pada naiknya harga beberapa barang konsumsi.  Inflasi kelompok volatile food di 2015 mencapai 4,03% (yoy), menurun dibandingkan 2014 yang sebesar 10,49% (yoy). Komoditas yang mengalami penurunan harga paling signifikan adalah aneka cabai yaitu cabai merah, cabai rawit, dan cabai hijau dengan andil inflasi masing-masing mencapai -0,24%, -0,01%, dan 0,01% (yoy). Penurunan harga cabai disebabkan oleh panen raya cabai yang terjadi di beberapa daerah di Jawa, Bengkulu, dan Lampung.

    Ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan akan tumbuh lebih baik dari tahun sebelumnya. Memasuki tahun 2016, ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan akan lebih baik dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan diperkirakan akan didominasi dari sisi investasi. Kontribusi dari pembangunan infrastruktur diyakini berpengaruh besar pada perbaikan ekonomi.

    Percepatan realisasi proyek dari awal tahun oleh pemerintah akan menjadi modal yang baik dalam memberikan nilai tambah maksimal kepada  kinerja ekonomi Sumatera Selatan. Selain itu adanya proyek pembangunan dari tahun sebelumnya yang dialihkan ke  periode 2016 akan semakin meningkatkan geliat aktivitas ekonomi di Sumatera Selatan.

    Perlunya menjaga  konsistensi rencana program pembangunan agar dapat terealisasi dengan baik merupakan kunci keberhasilan dalam mendongkrak pertumbuhan ekonomi. Sedangkan proyek-proyek pembangunan yang akan menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan di tahun ini diantaranya berasal dari proyek pendukung pelaksanaan Asian Games.

    Pengembangan proyek double track masih terus berlanjut dan saat ini telah memberikan manfaat pada  perekonomian. Selain itu, pembangunan LRT dalam kota yang fisik pengerjaanya mulai dilaksanakan di akhir tahun 2015, diyakini turut mendorong lebih besar lagi pertumbuhan ekonomi dari sisi investasi.

    “Asesmen lengkap mengenai kondisi dan prospek perekonomian berbagai daerah dan khususnya Provinsi Sumatera Selatan, dapat dilihat pada publikasi Laporan Nusantara dan KEKR Provinsi Sumatera Selatan yang dapat diperoleh melalui situs resmi Bank Indonesia, www.bi.go.id “ pungkasnya. (edchan)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com