• 15 Tahun, Kalelawar Bersarang di SDN 4 Pumu

    0
    15 Tahun, Kalelawar Bersarang di SDN 4 Pumu

    15 Tahun, Kalelawar Bersarang di SDN 4 Pumu

    Lahat, jurnalsumatra.com – Sekitar 15 tahun terakhir, ratusan kelelawar membentuk koloni menjadikan bangunan SD Negeri 4 Tanjung Sakti Pumu, sebagai sarang. Upaya mengusir binatang yang aktif malam hari ini telah dilakukan dengan berbagai cara, diantaranya mengasap koloni kelelawar yang bersarang, tapi tetap saja kawanan kelelawar kembali lagi. Bahkan, upaya mengusir dengan menyemprotkan racun tidak membuahkan hasil.

    Kepala SD Negeri 4 Tanjung Sakti Pumu, Rusmala Dewi mengaku, sejak 2001 kelelawar mulai berdatangan menempati bangunan sebagai sarang. Awalnya jumlah kekelawar yang bersarang tidak terlalu banyak, seiring waktu kelelawar tersebut berkembangbiak. “Sudah diracun, tapi tidak mempan. Kami pusing mikirkannya,” ujarnya, belum lama ini.

    Bahkan, sambung dia, kotoran kelelawar tidak saya mengotori ruang belajar, hewan tersebut masuk ke atas plafon, hingga kotoran berjatuhan di plafon, menumpuk hingga membuat plafon lapuk. Dikhawatirkan plafon ambruk saat murid sedang belajar. Apalagi kerusakan sudah terjadi dimana-mana. “Saya takut ambruk plafonnya, dan menganggu aktifitas kegiatan belajar mengajar (KBM),” ujar Rusmala

    Sementara itu, Wali Kelas IV SD Negeri 4 Tanjung Sakti Pumu, Madaiti menyatakan, suasana belajar mengajar menjadi tidak nyaman. Sebab terdapat kawanan kelelawar yang jumlahnya bisa ratusan, terdapat di plafon kelas. Awalnya plapon jebol yang di satu titik, namun lama kelamaan semakin banyak akibat rembesan hujan. Sehingga dijadikan akses masuk para kelelewar untuk bersarang, dan sangat mengganggu aktivitas belajar mengajar. “Bukan saja plafon khawatir ambruk, bau kotoran kelelawar dari atas plafon juga mengganggu belajar,” bebernya.

    Ia menambahkan, setiap hari muridnya juga harus membersihkan kotoran kelelawar, yang jatuh ke lantai. Sebab bila dibiarkan maka semakin lama akan menumpuk, dan bau tak sedang yang muncul bisa semakin pekat.”Setiap hari siswa saya mengeluh, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa,” pungkas Madaiti. (Din)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com