• Warga Sulteng Antusias Tonton Proses GMT

    0

        Sigi, Sulteng, jurnalsumatra.com – Ratusan warga Desa Kotapulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berkumpul di lapangan setempat untuk menyaksikan secara langsung fenomena Gerhana Matahari Total (GMT) selama dua menit lebih.
    “Syukur bisa kita langsung melihat Gerhana Matahari secara langsung saat sudah sempurna. Semuanya gelap seperti malam, tapi hanya sebentar,” tutur Ibrahim warga setempat di Kabupaten Sigi, Sulteng, Rabu.
    Menurut dia, meski hanya menggunakan kacamata las bisa mellihat proses terjadinya gerhana matahari secara utuh serta melihat lingkaran cahaya berbentuk cincin menutupi bulan sehingga suasana menjadi gelap sejenak.
    “Tadi itu dingin sebentar sekali, setelah lepas tiba-tiba hawa mulai panas. Ini merupakan kebesaran tuhan pencipta alam semesta,” ujarnya.
    Warga lainnya, Masno mengatakan dirinya sudah sejak awal mempersiapkan kacamata ultraviolet khusus  seharga Rp30 ribu untuk menyaksikan langsung detik-detik gerhana matahari karena baru pertama kali dalam sejarah kehidupannya melihat fenomena alam itu.
    “Saya sudah siapkan kacamata untuk melihat prosesnya dari seperempat, seperdua sampai sempurna. tapi hanya beberapa menit. Banyak juga warga disini tidak pakai kacamata dan bisa juga melihat langsung saat posisi matahari dan bulan bersatu,” papar dia.
    Sementara di lokasi lain di pantai Talise, Kota Palu, Sulteng, masyarakat antusias melihat proses terjadinya gerhana, beberapa warga menyaksikan di sepanjang pantai Kalise, Anjungan Nusantara dan sebagian di atas jembatan Kuning, Kota Palu.
    Sejumlah masjid juga menyambut gerhana matahari dengan melakukan salat gerhana sesuai sunnah muaqqad Rasullulah Saw.
    Sebelumnya, Wakil Gubernur Sulteng H Sudarto menyebutkan, provinsi Sulteng mendapat perhatian serius di mata dunia. Tercatat paling banyak turis asing mengunjungi Sulteng sekitar 5.000-an orang dan wilayah kabupaten sekitarnya untuk melihat proses GMT selama kurang lebuh dua sampai empat menit.
    Ia menyebutkan sejumlah lokasi pengamatan GMT di Sulteng seperti Pantai Kalise, Kumbasa, Mantatinali, Sibadi, Parigi Montong, Sigi,  pesisir Poso, Kota Pulu, Tojo Una-una dan Banggai dan lainnya menjadi momentum memperkenalkan Sulteng di mata dunia.
    “Tentunya fenomena ini yang baru terjadi dari 360 tahun lalu menjadi hikmah tersendiri bagi masyarakat dan pemerintah. Bila ditinjau dari kepariwisataan akan mendatangkan jumlah wisatawan serta berdampak pada peningkatan ekonomi kerakyatan,” sebut dia.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com