• Warga Banda Aceh Laksanakan Salat “Khusuf”

    0

    Banda Aceh, jurnalsumatra.com- Warga Kota Banda Aceh dan Kabupaten Aceh Besar memadati sejumlah masjid untuk menunaikan Salat “Khusuf” (gerhana) matahari, Rabu, sebagai bentuk kesyukuran dan ketaqwaan kepada Allah SWT.
    Pantauan Antara, Salat Khusus di Masjid Alfitra Keutapang Banda Aceh yang dipenuhi jamaah laki-laki dan perempuan dimulai pukul 07.20 WIB dan bertindak sebagai imam Tgk H Muhammad Hatta.
    Salat gerhana dua rakaat itu berbeda dengan salat sunah lainnya, karena pada rakaat pertama terdiri dari dua rukuk dan dua sujud, demikian juga rakaat kedua dua rukuk dan dua sujud.
    Saat membaca surat, Imam Hatta membaca satu juz pada juz ke-30. Satu juz itu dibagi empat.
    Salat gerhana juga dilaksanakan di Masjid Oman Lampriet Banda Aceh, Masjid Baiturrahim Ulee Lheue, dan Masjid Jami’ Kampus Darussalam.
    Di Kabupaten Aceh Besar juga dilaksanakan salat gerhana di Masjid Ma’had Assunnah Lampenerut,
    Tgk Muhammad Hatta dalam kutbahnya menyatakan, sebagaimana Sabda Nabi Muhammad SAW, gerhana matahari dan bulan bukan karena matinya seseorang, tapi salah satu tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
    Oleh

    karenanya, Rusulullah memerintahkan umatnya untuk melaksanakan Salat Khususf apabila terjadi gerhana matahari dan bulan, sebagai bentuk kesyukuran dan ketaqwaan kepada Allah SWT, katanya.
    “Berbahagialah bagi umat Islam yang pada hari ini bisa melaksanakan Salat Khusuf, karena telah menlaksanakan sunah Rasulullah SAW,” tutur dia.
    Dengan menunaikan Salat Khusuf ini, umat Islam di Aceh diberi rahmat oleh Allah SWT dan dijauhkan dari segala cobaan, katanya.
    Sementara itu, di Lhokseumawe, selain menunaikan salat, warga menyaksikan gerhana matahari, dengan memodifikasi berbagai alat untuk dapat menyaksikan fenomena alam langka tersebut.
    Seperti yang dilakukan oleh Awaluddin, warga Batuphat, Kecamatan Muara Satu, Kota Lhokseumawe, dirinya khusus memasang plastik negatif film dikaca matanya. Hal itu supaya dapat menyaksikan matahari langsung dengan aman.
    Ide tersebut diperoleh melalui media sosial, yang menyebutkan bahwa salah satu cara aman adalah memasang negatif film yang diplester di kacamata biasa. Selain dari cara-cara lain yang dianggap aman untuk dapat melihat langsung gerhana matahari tersebut.
    Karena menurutnya, jumlah kacamata yang dibagikan oleh panitia kegiatan pengamatan gerhana matahari sangat terbatas, sehingga memilih memodifikasi sendiri kacamatanya, supaya bisa menikmati proses gerhana itu sendiri.
    “Ini salah satu cara agar bisa menyaksikan gerhana matahari, karena tidak mungkin mengharapkan kacamata yang khusus dibagikan oleh panitia dengan jumlah yang sangat terbatas, sedangkan warga sangat banyak yang menyaksikannya,” ucap Awal.
    Selain memasang negatif kamera, cara lain yang juga dilakukan oleh warga agar dapat menyaksikan fenomena langka itu, adalah memasang plastik reben di kacamatanya. Dengan begitu dapat menyaksikan gerhana matahari.
    Selain ada warga yang memasang plastik reben di kacamata, para photographer maupun wartawan foto juga menyiasatinya dengan memasang plastik reben tersebut diujung lensanya.
    Seperti Mirza, salah seorang photographer, yang mengatakan, sengaja memasang plastik reben di ujung lensa kameranya, agar dapat memotret objek gerhana matahari dengan jelas dan tidak merusak kamera dengan bias cahaya matahari yang begitu kuat.(anjas)

     

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com