• Walau Ketat Tetap Ada Kemudahan Untuk Dosen

    0

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Ketatnya regulasi yang mengatur persyaratan guru dan dosen, membuat perguruan tinggi harus sigap mengatasi persolan tersebut. Termasuk aturan soal rasio dan linieritas yang kerap menjadi kendala. Namun Dirjen Dikti sendiri sudah memberi kemudahan dalam mengatasi kurangnya dosen mendatang.

    Hal ini ditegaskan ketua Asosiai Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (Aptisi) Sumsel, H M Helmi SE MSi. Ia mengatakan, Dirjen Dikti sudah

    mempersilakan dosen asing untuk mengajar di Tanah Air. “Bahkan sudah diberi kuota sebanyak 10 persen melalui Nomor Induk Dosen Khusus (NIDK). Artinya, peluang ini bisa dimanfaatkan oleh perguruan tinggi untuk mengatasi kurangnya dosen,” ujarnya, Rabu (2/3/2016).

    Selain itu, solusi ini bertujuan agar dosen-dosen asing yang memiliki kualitas bagus bisa mengajar di kampus-kampus Indonesia. Dengan demikian bisa membagi ilmunya. “Dosen asing juga nantinya tidak hanya sekadar mengajar, tetapi juga melakukan penelitian bersama dosen-dosen dalam negeri, sekaligus mendukung jurnal-jurnal Indonesia bisa dipublikasikan di luar negeri,” terangnya.

    Tak hanya itu, selain mengajar dan membimbing mahasiswa, mereka juga bisa melakukan penelitian dengan dana-dana yang berasal dari dunia internasional seperti Bank Dunia, WHO, AUSAID, USAID dan sebagainya.

    “Kami berharap banyak dosen-dosen asing yang mau mengajar di sini, terutama dosen-dosen luar negeri yang bagus dan sudah memasuki masa pensiun. Mereka senang ke Sumsel dan mau membagi ilmunya kepada kita,” ungkapnya.

    Ia menjelaskan sebelum mendatangkan dosen asing, pihak kampus harus mengajukan dahulu kepada Kemenristekdikti. Untuk setahun pertama, Kemenristekdikti menanggung gaji dosen asing itu selama setahun. Dan yang penting lagi, dosen asing ini harus mendapat izin mengajar dari negara asalnya. “Selanjutnya, pihak kampus yang menggajinya dengan sumber dana penelitian tersebut,” jelasnya.

    Kemenristekdikti juga pada Januari lalu sudah meluncurkan NIDK. Identitas baru untuk dosen tersebut memberikan kesempatan pada para praktisi untuk mengajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dan Perguruan Tinggi Swasta (PTS). Selama ini, pelaksanaan proses perekrutan dosen hanya menjangkau kalangan tertentu yang dimulai dari jabatan paling rendah, sehingga kurang menjaring banyak kandidat untuk menjadi dosen.

    “NIDK akan diberikan kepada dosen yang diangkat perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja, setelah memenuhi persyaratan. Persyaratan adalah telah diangkat sebagai dosen oleh perguruan tinggi berdasarkan perjanjian kerja, memiliki kualifikasi akademik, sehat jasmani dan rohani, serta tidak terlibat dalam penyalahgunakan narkotika,” terangnya.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com