• SULSEL Perlu Berjuang Penuhi Syarat Destinasi Wisata

    0

    Makassar, jurnalsumatra.com – Semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan wisata di Provinsi Sulawesi Selatan tidak perlu saling menyalahkan terkait belum masuknya provinsi ini dalam program “10 Bali Baru” Kementrian Pariwisata namun mesti berjuang agar bisa memenuhi syarat destinasi wisata baru.
    Direktur Politeknik Pariwisata Makassar Dr Komang Mahawira SH MHum mengemukakan hal itu di Makassar, Kamis, menanggapi respon sejumlah kalangan terhadap pernyataan Menteri Pariwisata Arief Yahya di Politeknik Pariwisata Makassar beberapa hari lalu.
    Arief Yahya mengatakan pihaknya akan menciptakan “10 Bali Baru” di Indonesia yakni Tanjung Kelayang (Bangka Belitung), Borobudur (Magelang, Jawa Tengah), Labuan Bajo (Sumbawa, NTB), Tanjung Lesung (Pandeglang, Banteng), Bromo Tengger Semeru (Probolinggo, Jatim), Wakatobi (Sulteng), Danau Toba (Sumut), Kepulauan Seribu (DKI Jakarta) dan Morotai (Maluku Utara), Mandalika (NTB).
    “Kong Fu Tse pernah mengatakan jangan engkau kecewa kalau tidak dipilih tetapi kecewalah kalau engkau belum memenuhi syarat,” ujar Komang.
    Dia mengatakan Kementrian Pariwisata dalam jangka panjang akan membuat “100 Bali Baru” sehingga kalau sekarang belum masuk sepuluh besar tidak perlu kecewa karena masih ada kesempatan yang terpenting adalah berusaha memenuhi persyaratan yang ditetapkan.
    “Jadi sekarang fokus ‘stake holder’ pariwisata di Sulsel adalah pada perbaikan. Fokuslah pada atraksi, aksesibilitas dan aminitas. Kalau ‘3 A’ ini belum terpenuhi jangan minta terlalu banyak,” katanya.
    Dia menjelaskan “3 A” yang dimaksud adalah pertama, atraksi yakni obyek yang sudah ada mesti menarik dan ada perbedaan dengan tempat lain atau harus unik sehingga wisatawan mau berkunjung ke Provinsi Sulawesi Selatan.
    “Kedua aksesibilitas, menuju dari atau ke obyek wisata. Walaupun menarik kalau ke Toraja perlu sepuluh jam sementara orang hanya punya waktu tiga hari di Sulsel akan jadi masalah. Kemudian bagaimana jalan rayanya, bagaimana jadwal perjalanan via laut dan udara,” katanya.
    Berikutnya, ujar dia, adalah aminitas yakni fasilitas pendukung di obyek wisata seperti fasilitas internet, penukaran uang (money changer), rumah sakit atau klinik dan lainnya.
    “Dinas pariwisata dan stake holders lainnya harus fokus ke 3 A tersebut. Kami fokus ke ansidaring atau penyedian SDM-nya,” katanya.
    Dia juga menjelaskan kalaupun ada “3 A” tetapi kalau orang lain tidak tahu maka tidak ada artinya karena itu perlu promosi dengan pendekatan produk dan pasar.
    “Kalau pendekatan pasar ini pengunjung dikasih angket apa maunya mereka. Pendekatan ini agak tidak efektif dan biaya tinggi apalagi kalau kita tidak bisa memenuhi,” katanya.
    Sedangkan pendekatan pasar, ujar dia, adalah dengan melakukan identifikasi produk terlebih dahulu dan setelah memenuhi syarat baru dijual ke negara yang menyukai produk tersebut.
    “Tidak semua orang suka wisata kuburan di Toraja. Orang Malaysia maunya belanja. Kalau Museum Rotterdam lebih baik dijual ke wisatawan Belanda atau Eropa,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com