• Polisi Amankan Penadah Lima Ton Besi Curian

    0

         Lubuk Sikaping, jurnalsumatra.com – Jajaran Kepolisian Resor Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat mengamankan seorang yang diduga sebagai penadah barang curian milik perusahaan timah milik PT  Meranti Mas Pratama  yang berada di Kecamatan Rao Utara.
    Kasat Reskrim Polres Pasaman AKP Syaiful Zubir, di Lubuk Sikaping, Senin mengatakan seorang yang diduga sebagai penadah barang curian milik PT MMP berupa besi diamankan, Senin (14/3) dini hari dan hingga kini masih berada di Mapolres berikut barang bukti.
    “Penadah barang curian sebanyak lima ton besi tersebut atas nama Suhardi, yang diamankan di tempat usahanya yakni di Kampung Pagaran, Kecamatan Rao Utara,” kata Syaiful.
    Ia menambahkan, terasangka diamankan setelah menadah barang curian dari pelaku pencurian yang berjumlah 12 orang yang saat ini sedang dikejar oleh pihak kepolisian setempat.
    Pencurian yang terjadi di PT MMP tersebut, mengakibatkan kerugian sekitar lebih kurang Rp31 miliar.
    Menurut pihak kepolisian setempat, penangkapan terhadap pelaku penadah barang curian tersebut, berawal dari informasi yang diterima pihak terkait, bahwa ada pelaku sebagai penampung barang curian di Kampung Pagaran, dengan informasi yang ada, pihak terkait lansung menuju lokasi dan menemukan barang bukti, serta lansung mengamankan pelaku.
    “Barang curian di PT MMP tersebut, sebanyak 10 ton besi, dan diduga lima ton lainya sudah dijualnya ke Kota Medan, Sumatera Utara,” jelasnya.
    Syaiful menambahkan, saat ini pihak penyidik sedang memeriksa tersangka secara intensif di Mapolres Pasaman, untuk pengembangan kasus ini.
    Sementara itu, sebelumnya dilaporkan pihak kepolisian pencurian besi di PT MMP yang merupakan pabrik timah tersebut, sering terjadi sejak 2015, dimana dalam catatan kepolisian setidaknya telah terjadi sembilan kali pencurian.
    Pencurian di lokasi tersebut terjadi pada Jumat 20 Maret 2016, 8 September 2015, 6 September 2015, kemudian pada tanggal 22 Oktober 2015, 4 November 2015, 5 November 2015, 26 Januari 2016, 10 Februari 2016, dan 1 Maret 2016.
    “Pengawas alat-alat pabrik tidak berani melapor ke polisi, karena diancam oleh belasan pelaku, yang secara terang-terangan menjarah dan merusak pabrik tersebut secara berulang-ulang,” jelasnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com