• Polda-Granat Gagas Pembentukan Satgas Antinarkoba Lampung

    0

         Bandarlampung, jurnalsumatra.com – Kepolisian Daerah Lampung dan Gerakan Nasional Anti-Narkotika serta Badan Narkotika Nasional Provinsi Lampung menggagas pembentukan Satgas Anti Narkotika di tingkat desa untuk membatasi pergerakan peredaran narkoba di tengah masyarakat.
    “Kurang lebih akan kami bentuk 2.696 Satgas Antinarkoba di desa-desa se-Lampung,” kata Kapolda Lampung Brigjen Ike Edwin, usai pertemuan dengan Ketua DPP Granat KRH Henry Yosodiningrat di Mapolda Lampung, Bandarlampung, Senin malam.
    Menurut dia, nantinya setiap desa akan memiliki kader Satgas Antinarkoba (SAN) yang bertugas sebagai kepanjangan tangan pemerintah dan kepolisian dalam melakukan pengawasan terhadap peredaran narkoba di wilayahnya.

         Brigjen Ike Edwin mengatakan satgas pemberantasan narkoba atau satgas masyarakat peduli narkoba akan segera dideklarasikan bulan depan atau April mendatang.
    Satgas ini, kata dia, terdiri dari 30 orang di setiap desa itu, terdiri dari Bhabinkamtibmas, Babinsa, perangkat desa, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda dan ormas (Granat), termasuk Ditnarkoba dan BNN Provinsi Lampung.
    “Bulan depan akan dideklarasikan. Bukan hanya masyarakat biasa, polisi juga masih ada yang menggunakan bahkan mengedarkan narkoba, sehingga harus segera dibentuk tim ini,” kata Kapolda lagi.
    Ketua Umum DPP Granat KRH Henry Yosodiningrat mengatakan bahwa Granat mendukung penuh rencana membentuk satgas tersebut.

         “Granat siap. Saya ingin memulainya dari Lampung, bagaimana lebih memberdayakan masyarakat untuk mengajak tidak menggunakan narkoba,” kata dia.
    Bahkan, Henry mendorong agar satgas ini segera dideklarasikan.
    Namun dia mengingatkan agar terus mengontrol satgas ini. “Yang penting komitmen dalam membangun negeri dari pedesaan, ini terobosan baru kita selamatkan generasi muda dari desa agar mempersempit peredaran narkoba di setiap desa,” kata dia.

         Henry menyebutkan bahwa peredaran narkoba ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar saja, melainkan wilayah pedesaan sekarang menjadi sasaran utama para pengedar narkoba.
    Bahkan, ia menilai, penanggulangan penyalahgunaan narkoba saat ini termasuk gagal di semua sisi. Jadi, ia melanjutkan perlu adanya upaya serius dan sinergi antara pemerintah, kepolisian, BNN, dan masyarakat untuk melakukan pencegahan sejak dini.
    “Mudah-mudahan gagasan ini akan dapat menjadi solusi dan pertama kali kita adakan di Lampung sebagai sarana uji coba,” ujar dia.

         Kepala BNN Provinsi Lampung Kombes Zulkifli berkaitan penanganan penyalahgunaan narkoba memberikan masukan terkait rehabilitasi bagi para pengguna narkoba, yaitu rehabilitasi yang dilakukan di pulau.
    “Pertama khusus di Lampung dulu, setiap pulau menampung 5.000 orang, di sana diajarkan produktif, menurut kami kalau ini dilakukan khususnya di Lampung, para pengguna bisa direhabilitasi di sebuah pulau, dan optimistis mereka akan sembuh, karena mereka terisolasi di pulau selama tiga hingga enam bulan,” kata dia pula.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com