• Pengamat Sebut CCTV Makassar Hanya Hiasan

    0

         Makassar, jurnalsumatra.com – Pengamat Pemerintahan Universitas Bosowa Makassar Dr Arief Wicaksono menyebut jika kamera CCTV (Closed Circuit Television) yang dipasang di beberapa ruas jalan itu hanya sebatas hiasan saja.
    “Menurut saya CCTV yang dipasang Pemkot di jalan raya dan lorong untuk mendeteksi dan memantau aksi kejahatan begal dan lainya hanya hiasan kota saja. Karena jarang CCTV tersebut deteksi keberadaan begal,” ujarnya di Makassar, Senin.
    Arief mengatakan, CCTV yang banyak terpasang di jalan-jalan utama maupun jalan lainnya dan dikendalikan melalui “war room” dengan segala kecanggihan teknologinya tetap tidak berguna.
    Karena teknologi terbarukan dan kapasitas penyimpanan serta monitor terbesar yang terletak di lantai 10 menara Balaikota Makassar itu tetap tidak bisa mendeteksi begal atau tindak kejahatan lainnya.

         “Kejadian demi kejadian terus terjadi dan tetap saja, ‘war room’ Pemkot tidak berfungsi. Bahkan pemkot dan pihak keamanan tak berdaya mengatasi begal ini,” katanya.
    Ironisnya, begal yang sudah ditindak tegas dengan ditembak, ditangkap dan bahkan secara tidak manusiawi di amuk massa hingga meregang nyawa, seolah tidak menjadi efek jera. Begal sadis Makassar terus saja beraksi dengan tidak pandang bulu.
    Menurut Arief Wicaksono, “war room” harus dimaksimalkan sesuai dengan arahan Wali Kota Makassar Moh Ramdhan Pomanto yang menginginkan CCTV sebagai alat pengontrol dan pendeteksi aksi kejahatan di Makassar.
    “Tidak relevan memang itu kalau sudah ada CCTV, sudah ada War Room, tapi begal masih berkeliaran. Sebenarnya substansi barang ini adalah masalah pengawasan pemkot dan penegakan hukum yang lemah,” jelasnya.

         Pihak kepolisian, lanjut dia, mesti ekstra kerja keras untuk paling tidak mengurangi frekuensi kejadian seperti itu. Di sisi lain, wali kota sebagai penguasa wilayah kota yang menurut undang-undang dapat menggerakkan aparat keamanan untuk mengamankan wilayahnya.
    Dia menambahkan, jika CCTV tidak bisa mengungkap kejahatan begal di Makassar, maka CCTV tidak lebih dari hiasan dan pajangan kota semata.
    “Apa gunanya ada CCTV, tapi tidak bisa ungkap kejahatan, kita tentu prihatin apalagi menyangkut keamanan dan keselamatan masyarakat umum,” ucapnya.

         Terpisah Kabid Humas Polda Sulselbar Kombes Pol Frans Barung Mangera mengatakan, angka kejahatan yang terdata di Polda Sulselbar hingga memasuki bulan Maret ini sudah sekitar 1.260 kasus.
    “Kalau melihat data laporan yang masuk di Polda itu sekitar 1.260 kasus sejak Januari hingga saat ini memasuki Maret. Macam-macam jenis tindak kejahatannya,” ujarnya.
    Frans Barung merinci, kasus dengan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor (Curanmor) juga mengalami peningkatan yang cukup drastis selama dua bulan ini.

         Berdasarkan data, kasus Curanmor pada Januari tahun ini, laporan masuk di kepolisian ada 272 perkara dan pengungkapan laporan 46. Sedang Februari, laporan masuk sebanyak 247 dan penyelesaian 38 kasus.
    “Memang selama ini kasus curanmor tergolong meningkat. Hal itu dibuktikan, banyaknya hasil motor curian yang berhasil disita anggota di lapangan,” katanya.
    Lanjut Barung mengatakan, kasus yang mononjol itu disusul pencurian dengan pemberatan (Curat). Berdasarkan data, pada Januari ada 100 laporan masuk dan penyelesain 53 kasus. Sedang Februari, laporan masuk 109 dan pengungkapan 61 kasus.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com