• Pemprov Cari Langkah Sejahterakan Petani Karet Sumsel

    0

    20160314_155527_resized_1Palembang, jurnalsumatra.com – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Pemprov Sumsel) semakin serius dengan kesejahteraan petani karet. Seperti yang diketahui selama dua tahun ini harga karet benar-benar anjlok berkisar antara Rp 4000 hingga Rp 6000 per kilogram.

    Anjloknya harga karet ini tak pelak membuat petani karet menjerit, banyak kebun-kebun karet kini terbengkali karena dibiarkan saja oleh pemiliknya. Petani merasa malas untuk menjual karet dengan harga murah. Belum lagi hasil jual karet yang tidak mampu lagi menutupi biaya perawatan dan penyadapan karet.

    Oleh sebab itu, Pemprov Sumsel mengambil langkah penting demi kesejahteraan petani karet. Pemprov membagi dua tahap yaitu tahap untuk jangka pendek hingga menengah dan jangka menengah hingga panjang.

    “Untuk jangka pendek-menengah, kita fokus pada pengelolaan, dari bahan mentah ke bahan jadi, serta pembinaan kepada petani untuk meningkatkan kulitas karet. Sedangkan untuk jangka menengah hingga panjang, kita akan terapkan regulasi (aturan, red) yang sangat ketat agar tidak terjadi kecurangan pada pasar karet,” ujar Asisten bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Sumsel, Yohannes Hasiholan Toruan, pada rapat pembahasan tindak lanjut hasil rapat 8 Maret tentang permasalahn Petani Karet Sumsel di Ruang Rapat II Kantor Dinas Perkebunan Sumsel, Senin (14/3).

    Aturan yang ketat diterapkan, karena seringnya terjadi praktik kebohongan yang dilakukan oleh pembeli karet. Misalnya karet yang dijual oleh petani ke pembeli dinilai jelek oleh pembeli sehingga harga karet tersebut turun, padahal kualitas karetnya baik. Lalu petani pada saat hendak menjual karet terkadang ada yang nakal dengan menambahkan benda lain seperti batu ke karet tersebut agar beratnya bertambah saat ditimbang.

    Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan Sumsel, H Fakhrurrozi mengatakan, untuk menjalankan program ini diperlukan koordinasi dari Pemerintah Kabupaten/Kota agar dapat menjelaskan kepada petani di daerah masing-masing tentang program ini.

    “22 Maret mendatang kita akan panggil Bupati dan Walikota, karena petani-petani ini ada di daerah mereka. Kita juga akan mengundang perusahaan Crumb Rubber (pengelolaan karet kering) untuk meminta pendapat terbaik,” kata Fakhrurrozi.

    Terpisah, Prof Andy dari Universitas Sriwijaya menuturkan, beberapa masalah yang menyebabkan anjloknya harga karet di Indonesia. Pertama, 95 persen karet Sumsel yang diekspor.

    “Jadi yang menentukan harga karet itu adalah orang luar, lalu karet sintetis lebih laku dipasaran dibandingkan karet alam, dan kualitas karet kita rendah yang belum mampu mengalahkan kualitas karet negara tetangga seperti Malaysia, dan Thailand,” tutur Prof Andy.(relis Humas Pemprov Sumsel)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com