• Musim Banjir Warga Buat Tikar

    0
    Musim Banjir Warga Buat Tikar

    Musim Banjir Warga Buat Tikar

    Prabumulih , jurnalsumatra.com – Lantaran kebun karet tergenang air maka sebagian ibu rumah tangga ( IRT) di Kelurahan Payuputat Kecamatan Prabumulih Barat terpaksa berkarya membuat tikar. Hasilnya tak seberapa, dua helai tikar berbahan bengkuang ( Pandan Hutan ) jika dijual akan mendapatkan 1 kilogram beras merk rangkong

    ” Untuk menutupi biaya hidup perharinya sejak banjir sebulan ini kami membuat tikar. Kalau dijual satu helai tikar Rp. 5 ribu. Sehari dari pagi sampai petang dapat 2 helai tikar, Lumayan biso beli beras 1 kilogram, Kata dua Ibu Rumah Tangga warga Payuputat ,Sumiyana (45) dan Maryama ( 42) kepada wartawan saat disambangi ke rumahnya Rabu (9/3).

    Menurut keduanya , sejak banjir suaminya tidak dapat menyadap seluruh batang karet di kebunnya lantaran sebagian masih digenangi air sepinggang dewasa , akibat sedikitnya batang karet yang disadap hasil getah karetyang dihasilkan sedikit, kira kira 5 kilogram ditambah lagi harga karet mingguan hanya dibeli toke hanyak Rp. 3.500 perkilogram

    Lantaran pencaharian lainnya tak ada maka para IRT terpaksa membuat tikar untuk membantu suaminya memenuhi kebutuhan kata keduanya hampir senada

    Diakui mereka penghasilan membuat tikar jauh dari mencukupi ditambah lagi pemasarannya juga agak sulit karena kalah bersaing dengan tikar plastik buatan Industri . Makanya kata keduannya pemasaran hasil produksinya dijual kedesa desa tetangga yakni ke wilayah Kecamatan Tanah Abang Kecamatan Pali

    Karena kata keduanya jika dijual kepasar Pasar Tradisional Modern (PTM) Prabumulih tidak laku , ” Kalu dijual dipasar Prabumulih pernah kami cobo dak katek yang galak beli makanya tikar ini kami jual ke kalangan di desa Tetangga,” Beber keduanya

    Masih kata keduanya ketika ditanya berapa banyak IRT yang membuat tikar didesanya ujar keduanya cukup banyak IRT yang sama profesi dengannya ,’ Banyak juge gawe vak kami ni , kalu puluhan ,” kata keduanua sepengetahuan mereka tak kurang dari puluhan IRT yang membuat tikar di kelurahnnya

    Ditambahkannya Kelurahayan Payuputat hampir setiap tahun selalu kebanjiran karena sungai Lematang menguap . Tetapi untuk pindah ke daerah daratan umumnya warga tak mampu untuk pindah , tidak ada dana untuk membeli lahan rumqh di daratan . Selain itu mereka sudah turun temurun tinggal di bantaran sungai Lematang itu

    Lurah Payuputat, Edi Suanto, SH membenarkan kalau pada musim paceklik banyak IRT yang kerja sambilan membuat tikar . Dan bahan baku berupa bengkuang cukup banyak tersedia di kawasan pinggir Sungai Lematang , ucap Edi

    Untuk memberikan solusi agar warga yang bermukim di seputar bantaran sungai Lematang tak lagi kebanjiran Walikota Prabumulih Ir.Ridho Yahya menyarankan kepada warga agar pindah ke kawasan yang tak kebanjiran yakni wilayah daratan di lingkungan kelurahan itu , ujar Ridho kepada awak media saat dimintai tanggapannya seputar langganan banjir di Kelurahan Payuputat ( Dahari)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com