• Gubernur-Para Bupati Se-NTT Bahas Radikalisme

    0

    Kupang, jurnalsumatra.com – Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya, bersama para bupati/wali kota akan bertemu di Labuan Bajo, Manggarai Barat untuk membahas masalah radikalisme.
    “Masalah radikalisme ini akan menjadi salah satu agenda penting yang akan dibahas bersama para bupati di Labuan Bajo pada Senin (21/3),” kata Gubernur Frans Lebu Raya di Kupang, Sabtu terkait radikalisme.
    Menurut dia, Labuan Bajo menjadi tempat yang dipilih untuk melaksanakan pertemuan karena daerah itu, selama ini dicurigai sebagai pintu masuk aliran radikalisme atau teroris.
    Selain sebagai pintu masuk perdagangan obat-obatan terlarang (narkoba), katanya.
    Gubernur berharap, semua pimpinan wilayah memiliki kesamaan pemahaman dalam melakukan pencegahan di wilayah masing-masing.
    Kepala Biro Umum Setda NTT Zakarias Moruk secara terpisah mengatakan, pertemuan gubernur dan para bupati di Labuan Bajo itu, selain membahas masalah pencegahan radikalisme atau terorisme, juga narkoba, korupsi dan percepatan pembangunan.
    “Ada empat agenda yang akan dibahas di Labuan Bajo yakni radikalisme, masalah narkoba, korupsi dan juga percepatan pembangunan ekonomi masyarakat di provinsi berbasis kepulauan itu,” kata Zakarias Moruk.
    Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Heri Wiranto dalam keterangan terpisah mengakui, wilayah Labuan Bajo memang dicurigai sebagai pintu masuk teroris dan ISIS.
    Karena itu, dirinya sudah memerintahkan jajaran untuk memantau dan mengawasi wilayah Labuhan Bajo.
    “Memang beberapa daerah yang dianggap sebagai pintu masuknya kelompok-kelompok teroris saat ini kami jaga, salah satunya di wilayah Labuan Bajo, karena berdekatan dengan Nusa Tenggara Barat,” kata Brigjen TNI Heri Wiranto.
    Apalagi kata dia, dalam beberapa tahun terakhir, masuknya sejumlah jaringan teroris ke NTT berawal dari  perpindahan jaringan itu dari NTB ke NTT yang masuk melalui Labuan Bajo.
    Heri mengakui, akhir-akhir ini muncul beberapa indikasi kemunculan simpatisan kelompok bersenjata ISIS. Tapi pihaknya sendiri terus mendalami hal ini.
    Munculnya lambang ISIS di Timor Tengah Selatan, terang Heri, juga dapat dianggap telah adanya simpatisan-simpatisan kelompok bersenjata ISIS di sana.
    Untuk mencegah masuknya paham ISIS atau sejenisnya ke NTT, saat ini juga semua pihak keamanan giat dalam mengelar razia, baik malam maupun pagi.
    Selain secara terbuka, kegiatan intelejen juga lanjutnya terus dilakukan untuk mencari tahu perkembangan wilayah di NTT.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com