• Enam Puskesmas Inderagiri Hilir Gunakan “Bridging System”

    0

    Pekanbaru, jurnalsumatra.com – Enam Puskesmas di Kabupaten Inderagiri Hilir (Inhil), Provinsi Riau, menjadi contoh nasional, pengguna “bridging system” yakni aplikasi antara sistem informasi Puskesmas (simpus) dengan primary care (P-care) yang memudahkan pelayanan kesehatan.
    “Penerapan bridging system di Inhil ini merupakan yang pertama di Pulau Sumatera dan di luar Pulau Jawa, mudah-mudahan menjadi pilot project dan memberikan dampak signifikan bagi pelayanan Puskesmas dan BPJS Kesehatan,” kata Kepala BPJS Kesehatan Divre II Benjamin Saut PS di Pekanbaru, Selasa.
    Ke-enam Puskesmas di Riau yang menggunakan bridging system itu adalah di kabupaten Inderagiri Hilir adalah Puskesmas Gajah Mada, Puskesmas Tembilahan Kota, Tembilah Hulu, Kempas Jaya, Sungai Salak, dan Puskemas Pengalihan Enok.
    Menurut Benjamin, banyak yang dapat disinergikan antara Puskesmas dan BPJS Kesehatan dengan penerapan sistem ini dan berdampak pada percepatan layanan fasilitas kesehatan tingkat pertama atau Puskesmas sekaligus meningkatkan kepuasan peserta BPJS kesehatan.
    Sebab, katanya, pelayanan di Puskesmas dapat diketahui langsung oleh Dinas Kesehatan setempat dan oleh BPJS Kesehatan secara real time (seketika) karena pencatatan di Puskesmas tidak lagi manual, namun sudah menggunakan digital.
    “Dengan demikian diharapkan melalui pengelolaan Puskesmas dengan bridging system maka informasi pelayanan kesehatan di Puskesmas dapat dilaksanakan dengan benar sesuai prosedur serta dapat di pantau oleh dinas kesehatan dan BPJS Kesehatan,” katanya.
    Saat ini, katanya, pengelolaan aplikasi digital di Riau baru enam Puskesmas, diupayakan hingga 2017 semua Pukesmas di daerah ini akan menggunakan sistem digital yang sama. Kini Dumai segera menggunakan aplikasi digital itu menyusul Pekanbaru, dan secara bertahap di Batam, Padang dan Jambi.
    Ia menjelaskan bahwa teknologi “bridging system” merupakan penggunaan fasilitas teknologi informasi sharing (web service) yang memungkinkan dua sistem berbeda pada saat yang sama melakukan dua proses data tanpa adanya intervensi satu sistem pada sistem lainnya secara langsung sehingga tingkat keamanan dan kerahasiaan masing-masing sistem tetap terjaga.
    “Dengan sistem ini proses antrean peserta BPJS kesehatan bisa dipangkas lebih cepat karena registrasi peserta hanya pada sistem Puskesmas dan rumah sakit, sehingga peserta bisa lebih cepat mendapatkan pelayanan kesehatan,” katanya.
    Sedangkan “bridging Pcare-Simpus menggunakan “web service” adalah integrasi antara dua sistem pengentrian data pelayanan di FKTP.
    Pcare adalah aplikasi sistem dikembangkan BPJS Kesehatan untuk layanan primer Puskesmas, klinik, dokter praktek perorangan. Simpus yakni aplikasi sistem yang dikembangkan secara mandiri oleh dinas kesehatan dan Kemenkes RI.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com