• DISBUDPAR KALTENG Minta Maaf Kacamata GMT Minim

    0

    Palangka Raya, jurnalsumatra.com – Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kalimantan Tengah Yuel Tenggara meminta maaf pada warga karena kacamata untuk melihat peristiwa Gerhana Matahari Total sangat minim, sehingga tidak semua dapat melihatnya secara langsung.
    Antusias menyambut GMT ini sangat luarbiasa namun sangat disayangkan fasilitas kacamata disediakan Disbudpar Kalteng tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang ingin melihatnya, kata Yuel di Bundaran Besar kota Palangka Raya, Rabu.
    “Kami sebenarnya sangat mengharapkan instansi terkait maupun pihak swasta ikut membantu menyediakan kacamata khusus melihat GMT ini. Kalau hanya Disbudpar, tentu membutuhkan dana yang sangat besar. Tapi, ya sudah terjadi dan kami yakin masyarakat bisa memahami kondisi ini,” ucapnya.
    Kepala Disbudpar Kalteng ini mengaku terharu dengan ribuan masyarakat setempat maupun dari Provinsi lain di Indonesia serta wisatawan yang sengaja datang bahkan berkumpul di Bundaran Besar dan sanaman Mantikei serta lokasi lainnya untuk melihat langsung prosesi peristiwa GMT ini.
    Dia mengatakan, hasil penerawangan para Basir Suku Dayak terhadap GMT ini juga sangat baik kemajuan mahluk hidup, khususnya bagi Kalteng karena akan memberikan suasana yang nyaman dan aman, serta mendatangkan kesejahteraan terhadap masyarakatnya.
    “Apalagi dengan adanya peristiwa langka GMT ini membuat kesenian dan kebudayaan Kalteng semakin dikenal masyarakat provinsi lain di Indonesia maupun negara lain. Kita ketahui bersama ribuan wisatawan Domestik dan Mancanegara kan datang ke Kalteng, khususnya Palangka Raya,” kata Yuel.
    Berdasarkan data yang sempat dicatat Disbudpar Kalteng, wisatawan mancanegara datang ke provinsi nomor dua terluas di Indonesia ini berasal dari Jepang, Amerika, Rusia, Belanda, Spanyol, Brazil, Polandia, Australia, Tiongkok, Australia dan berbagai negara lainnya.
    Pemerintah di Kalteng pun berbagai kegiatan pesta rakyat, pagelaran budaya, pameran kerajinan asli suku dayak dan kegiatan lain menyambut gerhana matahari total ini dilaksanakan juga untuk memberikan hiburan lain bagi para turis domestik maupun mancanegara yang sengaja datang ke provinsi ini.
    “Para Basir atau bahasa sederhananya peramal dari suku Dayak pun ikut meramaikan sekaligus meramal apakah GMT ini membawa kebaikan atau keburukan bagi Indonesia, khususnya Kalteng,” kata Yuel.
    Sebelumnya, Basir suku Dayak Kalteng Bajik R Simpei meramal peristiwa Gerhana Matahari Total yang telah terjadi akan membawa kesejahteraan bagi umat manusia di seluruh dunia, khususnya petani, karena produksi pertaniannya berlimpah.
    Ramalan ini karena tertutupnya matahari dimulai dari atas turun ke bawah bukan dari bawah ke atas atau dari samping kiri kanan yang memiliki perbedaan makna. Sebab, jika matahari tertutup dimulai dari atas ke bawah pertanda memberi rezeki kepada kehidupan.
    “Kalau damping kiri atau kanan pertanda pembangunan akan mengalami banyak kendala, sedangkan dari bawah ke atas itu pertanda umat manusia akan mengalami sangat banyak kesulitan. Ambil contoh, ketika kita berjalan hanya menggunakan kaki tanpa mata dan kepala,” kata Bajik.(anjas)

     

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com