• Di Palembang, Rutan Longgar Pengawasan

    0
    Di Palembang, Rutan Longgar Pengawasan

    Di Palembang, Rutan Longgar Pengawasan

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Masih minimnya jumlah petugas yang menjaga dan memperketat kepada setiap napi di Rumah Tahanan(rutan) Kelas IA Pakjo, Palembang,hal ini diukapkan Kepala Rutan Palembang Yulius Shahruza, masih adanya beberapa nara pidana yang dengan bebas membawa dan menggunakan gadget selama di dalam jeruji besi karena adanya kecolongan dari petugas rutan tersebut.

    Ia menjelaskan, di Rutan Kelas IA Pakjo Palembang ada sebanyak 1.516 orang napi, sementara keseluruhan petugas ada 112 orang. Saat jam jaga, rutan tersebut hanya ada sebanyak 11 orang yang bertugas.

    “Yang berkunjung datang ada lebih dari 200 orang sehari. Banyaknya yang datang membuat petugas sedikit kewalahan untuk mengecek satu per satu orang. Nah mereka inilah yang diyakini menjadi modus masuk dan menyelinapkan gadget atau handphone ke napi,” ucapnya.

    Yulius meyakini handphone tersebut diselipkan di dalam bungkusan gula, baju dan sebagainya. Guna memperketat penjagaan dan keamanan rutan, pihaknya rutin melakukan pengecekan dan razia kepada setiap napi yang berada di dalam rutan, minimal satu kali dalam satu minggu.

    “Razia sudah kita jadwalkan rutin. Setiap kali razia memang terkadang kedapatan ada napi yang menyimpan gadget. Selama 2016 saja, sudah ditemyukan ratusan handphone,” ungkap dia.

    Handphone yang ditemukan akan segera disita dan diamankan, bahkan pihaknya juga merusak dan memecahkan apabila ditemukan handphone dari tangan napi. Selain itu, para napi juga bakal dimasukkan kedalam sel isolasi sebagai hukuman telah menyimpan barang atau peralatan yang tak seharusnya digunakan.

    Dari contoh, Muhammad Ridwan dan Romy Norbec, keduanya merupakan napi di rutan tersebut. Namun selama di kerangkeng besi, keduanya tetap eksis meng-upload foto dan status di media sosial miliknya.

    Setelah bocor ke media, barulah para petugas rutan terjun kelapangan dan menyita handphone dari keduanya. Sayangnya, diduga masih banyak para penghuni rutan lainnya yang menggunakan handphone dari dalam rutan.

    “Bisa jadi masih banyak. Karenanya kita bakal tambah pengetatan pengawasan atau razia. Ini (bebasnya para napi gunakan handphone) adalah hal manusiawi kalau ada kemungkinan lolos, tapi kita ikhtiar maksimalkan pengawasan,” beber dia.

    Yulius menambahkan, banyaknya napi yang masih secara bebas menyimpan dan menggunakan handphone karena di rutan tersebut belum tersedia alat pendeteksi yang melacak sinyal dan penggunaan handphone.

    “Ini permasalahan klasik, LP manapun pasti seperti ini, kalau petugasnya minim, maka napi bisa lolos menyimpan handphone atau barang terlarang lainnya,” tuturnya. Yulius meminta agar ada kepedulian dari pemerintah, BNN dan lainnya untuk dapat memberikan peralatan canggih untuk deteksi pelanggaran ini.

    “Untuk dua napi yang didapat yakni Romy (napi kasus penganiayaan) dan Ridwan (napi kasus pencurian) sudah kita amankan, diisolasi dan dicabut hak-haknya sebagai napi. Tak bisa dikunjungi keluarga. Kita harapkan napi lain bisa jadikan ini sebagai pelajaran,” tandasnya.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com