• Bupati Lampung Timur Kecam Pembunuhan Gajah Sumatera

    0

    Lampung Timur,jurnalsumatra.com – Bupati Lampung Timur Chusnunia Chalim mengecam pembunuhan seekor gajah sumatera liar yang ditemukan terpenggal kepalanya tanpa gigi dan gading di Rawabundar Area Seksi II Way Kanan Taman Nasional Way Kambas pekan lalu.
    “Yang ingin saya sampaikan, pertama atas nama masyarakat Lampung Timur dan atas nama makhluk Tuhan, kita harus menjaga alam ini, saya mengetuk hati  para pemburu itu tolong jadi manusia, jangan hilang perasaan hatinya,” ujar Chusnunia, mengungkapkan kegelisahannya atas marak perburuan gajah liar di dalam hutan TNWK, usai menggelar Musrenbang Kecamatan Braja Selebah, di Desa  Braja Harjosari, Kamis.
    Menurut dia, keberlangsungan hidup gajah adalah tanggung jawab semua pihak untuk menjaga dan memeliharanya. “Kita harus bertanggungjawab menjaga dan memeliharanya,” ujarnya lagi.
    Chusnunia juga menyatakan, akan segera berkoordinasi dengan pihak Balai Besar Taman Nasional Way Kambas (TNWK) untuk mencari solusi menangani marak perburuan gajah liar di hutan TNWK yang menjadi bagian dari daerah Lampung Timur.
    “Kami akan ke TNWK untuk melihat lebih dalam dan berdialog dengan TNWK untuk mengurai masalah-masalahnya dan mencari solusinya,” ujarnya lagi.
    Sebelumnya, seekor gajah sumatera (Elephas maximus sumatrensis) liar ditemukan telah mati dengan kondisi mengenaskan, di Rawabundar Area Seksi II Way Kanan hutan TNWK di Lampung Timur, Kamis (25/2).
    Kematian gajah, salah satu satwa liar jenis langka dan dilindungi di dunia yang populasinya kian menyusut itu, diduga akibat dibunuh kawanan pemburu liar, mengingat gigi beserta gadingnya telah hilang.
    Aktivis lingkungan Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia pun mensinyalir perburuan gading dan gigi gajah liar marak terjadi di dalam kawasan hutan TNWK di Kabupaten Lampung Timur Provinsi Lampung.
    Menurut Sugiyo, aktivis WCS Indonesia di Lampung, WCS mencatat pada tahun 2015 sedikitnya lima hingga tujuh ekor gajah di TNWK mati terbunuh dengan kondisi gigi dan gadingnya yang hilang.
    Dari kasus gajah yang ditemukan mati itu rata-rata kondisi kepalanya sudah terpotong dari badannya.
    “Rata-rata gajah yang mati itu kepala dan badannya terpisah, dengan kondisi belalai terpotong dan gadingnya hilang, sedangkan di bagian mulutnya rusak serta giginya pun hilang,” ujarnya.
    Menurut dia, dengan melihat kondisi gajah yang mati hampir serupa tersebut besar kemungkinan kematian gajah itu disebabkan oleh ulah para pemburu liar yang mengincar gigi dan gading gajah liar untuk diperjualbelikan.
    Dia menyatakan, penyebab maraknya perburuan satwa gajah itu terjadi di TNWK karena faktor kemudahan akses manusia masuk ke hutan taman nasional itu, selain karena keterbatasan jumlah petugas pengawas TNWK.
    Diduga, gajah liar yang mati di kawasan hutan di Lampung, baik di TNWK maupun Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) Kabupaten Lampung Barat dan Bengkulu Selatan, terus bertambah karena menjadi incaran kawanan pemburu liar.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com