• Bulog Lebak Dan Pandeglang Siap Serap Gabah

    0

    Lebak, jurnalsumatra.com – Badan Urusan Logistik Devisi Regional Kabupaten Lebak dan Pandeglang siap menyerap gabah petani panen Maret-April 2016 dengan harga pembelian pemerintah (HPP).
    “Kami minta petani menjual gabah ke Bulog dan tidak ke tengkulak,” kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak, Dede Supriatna, saat dihubungi di Lebak, Sabtu.
    Penyerapan gabah tersebut berdasarkan hasil rapat bersama Bulog dan Dinas Pertanian serta Kodim 0603 Lebak yang digelar Jumat (11/3).
    Saat ini, petani Kabupaten Lebak pada Maret panen padi seluas 18.000 hektar sehingga dapat menyumbangkan ketahanan pangan di daerah itu.
    Karena itu, pihaknya meminta petani menjual gabah ke Bulog dengan HPP untuk gabah kering panen (GKP) Rp3.750/Kg dan gabah kering giling (GKG) Rp4.600/Kg.
    “Penyerapan gabah itu merupakan instruksi dari Presiden RI, Joko Widodo untuk mencegah anjloknya harga gabah di tingkat petani yang bisa menimbulkan kerugian,” katanya menjelaskan.
    Menurut dia, penyerapan gabah secara langsung oleh Bulog tentu menguntungkan petani sehingga dapat menggairahkan usaha pertanian pangan.
    Saat ini, usaha pertanian padi cukup menguntungkan jika harga GKG sebesar Rp4.600/Kg dengan panen 6,5 ton/hektar maka petani bisa menghasilkan uang sebesar Rp30 juta.
    Dari Rp30 juta itu, kata dia, biaya produksi sekitar Rp8 juta/hektar sehingga keuntungan petani bersih Rp22 juta selama empat bulan.
    “Kami mendorong petani setelah panen bisa melaksanakan percepatan tanam pada April mendatang,” katanya.
    Berdasarkan pantauan di Pasar Tradisional Rangkasbitung pasokan beras lokal dari berbagai daerah di wilayah Kabupaten Lebak melimpah.
    Para pedagang mendatangkan beras lokal karena permintaan pasar cukup tinggi dan kualitasnya relatif bagus. Umumnya, beras lokal itu hasil panen Februari-Maret 2016 dan kemungkinan hingga berlangsung Mei mendatang.
    “Kami menjamin panen tahun ini melimpah karena tidak ada serangan hama maupun penyakit organisme pengganggu tanaman (OPT),” katanya.
    Ia menyebutkan, saat ini pasokan beras lokal melimpah dan terlihat banyak warga Rangkasbitung menjadi pedagang beras.
    Mereka menjual beras di kios-kios jalan maupun perkampungan hingga sudut kota.
    Keunggulan beras lokal itu, selain harga murah antara Rp7.000 sampai Rp8.000/kg, juga beraroma wangi. Pasokan beras lokal itu adalah jenis medium yang memiliki kualitas cukup bagus.
    Saat ini, harga beras lokal medium KW 1 semula Rp8.000/Kg dan beras KW II Rp7.500/Kg dan beras KW III Rp7.000/Kg.
    “Kami menjamin harga beras lokal itu relatif stabil karena pasokan melimpah,” katanya.
    H Baden (55), seorang pedagang di pasar tradisional Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, membenarkan dia kini mendapatkan beras dari petani lokal.
    Untuk sekarang pasokan beras lokal mencukupi untuk kebutuhan tujuh bulan mendatang. “Kami ini saat ini menerima beras lokal sebanyak delapan ton,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com