• TKI Ilegal Jera Bekerja Kembali Di Sabah

    0

        Kuala Lumpur, jurnalsumatra.com – Para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang masuk secara ilegal ke Sabah, Malaysia menyatakan menyesal dan jera bekerja kembali di ladang sawit karena hasil yang diperoleh dengan apa yang dipartaruhkan tidak seimbang.
    Semisal Harini binti Idris dan Dahlia, TKI ilegal di Sabah yang dalam penuturannya kepada tim satgas KJRI Kota Kinabalu, Rabu mengatakan, bahwa mereka sering mendapat tindakan sewenang-wenang dari majikannya.
    “Selama di Sabah, saya bekerja memungut biji sawit dengan upah kecil dan itupun dipotong lagi oleh majikan untuk iuran makan, tempat tinggal, air dan listrik,” kata Harini yang diamini oleh Dahlia.

        Kedua TKI ilegal ini masuk ke Sabah ditolong oleh seorang agen. Diakuinya bahwa kedatangan ke Sabah tidak menggunakan jalur yang dibenarkan, demikian penuturan dua ibu rumah tangga yang masuk ke Sabah melalui Sungai Nyamuk dengan menggunakan sampan.
    Selepas mendekam dalam Rumah Tahanan Imigrasi selama 2 bulan, keduanya mengatakan menyesal dan jera untuk kembali bekerja di ladang sawit di Sabah.
    Pihak KJRI Kota Kinabalu mengakui bahwa tiada habisnya berita mengenai TKI ilegal yang dipulangkan dari Rumah Tahanan Imigrasi Malaysia ke Indonesia.

        Sementara itu, menindaklanjuti surat permohonan mendadak dari Kantor Imigrasi di Sandakan sehari sebelumnya, KJRI Kota Kinabalu hari Rabu tanggal 24 Februari 2016, kembali menugaskan dua orang anggota Tim Satgas Perlindungan WNI untuk pergi ke Sibuga, Sandakan berjarak 350 km dari Kota Kinabalu.
    Kedua anggota Tim Satgas perlu menghabiskan waktu 6 jam perjalanan dengan mobil untuk melakukan interview dan melakukan verifikasi dokumen kepada 82 tenaga kerja yang akan dideportasi, terdiri dari 40 Pria, 38  wanita dan 4 Anak di bawah umur.

        Konsul Jenderal RI di Kota Kinabalu, Akhmad DH. Irfan menyatakan bahwa Tim Satgas KJRI memang harus selalu siap membantu dan bekerja sama dengan para pemangku kepentingan agar WNI terjamin perlindungannya.
    “Tim Satgas KJRI Kota Kinabalu tidak boleh menolak permohonan bantuan dari pihak manapun, sejauh itu menyangkut kepentingan WNI/TKI. Ini merupakan bagian dari upaya yang terus menerus untuk melindungi keselamatan dan kepentingan WNI/TKI dari tindakan yang melanggar hukum, baik sebagai korban atau bahkan sebagai pelaku,” ucapnya.

    Tak punya kerja tetap
    Ketua Tim Satgas Perlindungan KJRI Kota Kinabalu, Hadi Syarifuddin, mengatakan para TKI ilegal yang dipulangkan rata-rata tidak memiliki pekerjaan tetap dan hanya bekerja serabutan karena tidak memiliki izin kerja.
    Tim Satgas selain menerbitkan SPLP, juga melakukan sosialisasi tentang keberadaan Poros Sentra Pelayanan dan Pemberdayaan Terpadu TKI yang pada tanggal 16 Februari 2016 diresmikan oleh Menko PPM Puan Maharani di Nunukan, Kalimantan Timur.
    Di Sabah, pada umumnya TKI berasal dari Indonesia bagian timur seperti Flores, Adonara, Buton, Makasar dan Toraja.
    Banyak di antara mereka datang ke Sabah secara ilegal melalui daerah tertentu di perbatasan Kalimantan Utara (Kaltara).(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com