• TKI Deportasi Berharap Pemerintah Perhatikan Nasibnya

    0

    Nunukan, jurnalsumatra.com – Tenaga kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi pemerintah Kerajaan Malaysia ke Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, Jumat (19/2) malam, berharap pemerintah pusat memperhatikan nasibnya.
    Fransiska Jaya di Nunukan, Sabtu, misalnya menyarankan, pemerintah Indonesia saat ini benar-benar mampu memberikan kesejahteraan kepada warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Negeri Sabah, Malaysia.
    Ketika mengetahui TKI deportasi dan ilegal lainnya yang masih bekerja di Negeri Sabah akan dipulangkan mengurus paspor di Kabupaten Nunukan, perempuan kelahiran Malaysia dari kedua orangtuanya asal Kabupaten Toraja, Sulsel ini sangat mendukung program tersebut.
    Ia beralasan, apabila TKI telah memiliki legalitas sebagai pekerja asing secara tidak langsung akan memberikan penghasilan yang lebih besar karena dipastikan tidak akan diperlakukan sewenang-wenang lagi oleh majikannya di Malaysia.
    Bahkan dia yakin, apabila pemerintah Indonesia mampu membuka lapangan pekerjaan bagi TKI di negeri jiran sesuai dengan “skill” atau keterampilan yang dimilikinya maka dipastikan tidak berpikir lagi bekerja di luar negeri.
    “Kalau pemerintah Indonesia benar-benar mau memperhatikan rakyatnya dengan membuka lapangan pekerjaan maka dipastikan sudah kurang yang berpikir bekerja di luar negeri misalnya di (Negeri) Sabah,” ungkap Fransiska Jaya yang baru berusia 17 tahun itu.
    Menurut dia, sebenarnya banyak TKI di Negeri Sabah hendak pulang ke kampung halamannya baik untuk cuti maupun telah memutuskan tinggal bersama sanak keluarganya tetapi mengalami rasa ketakutan akibat tidak memiliki paspor.
    Untuk itu, dengan terpaksa harus bertahan lagi bekerja pada sejumlah perusahaan kelapa sawit ataupun kilang sambil menunggu situasi aman dan razia terhadap pekerja asing tidak ada lagi.
    Demikian pula dengan Sukma Nurhikma Jhon, TKI deportasi lainnya di penampungan Nunukan menyatakan, meninggalkan kampung halamannya di Kota Parepare, Sulsel karena kemiskinan yang dialami kedua orangtuanya.
    Selama meninggalkan kampung halamannya 15 tahun silam belum pernah pulang menemui kedua orangtuanya karena telah merasa nyaman bekerja di Malaysia dengan penghasilan yang cukup lumayan.
    Meskipun demikian, Sukma Nurhikma tidak berpikir lagi kembali ke Malaysia mencari pekerjaan tetapi berniat tinggal di Kabupaten Nunukan untuk mencari pekerjaan lain yang halal untuk memenuhi kebutuhan pribadinya.
    Ketika ditanya program pemerintah yang melarang TKI yang berangkat ke Negeri Sabah tanpa paspor dan perjanjian kerja. dia sangat setuju dengan alasan langkah tersebut sangat baik supaya benar-benar mendapatkan upah yang sebenarnya dari perusahaan tempatnya bekerja.
    “Jika pemerintah mengeluarkan aturan seperti itu di mana TKI yang mau ke Malaysia bekerja harus pakai paspor dengan kontrak kerja yang jelas sangat bagus,” ujarnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com