• Sutarmidji Berharap Kebersamaan Multi Etnis Tetap Terjaga

    0

    Pontianak, jurnalsumatra.com – Wali Kota Pontianak Sutarmidji berharap kebersamaan multi etnis di kota itu tetap terjaga, sehingga tercipta iklim yang kondusif dan investor juga mau berinvestasi di Pontianak.
    “Tahun ini Perayaan Cap Go Meh di Kota Pontianak lebih meriah dibanding tahun-tahun sebelumnya, hal itu bisa dilihat dari jumlah replika naga yang ikut memeriahkan CGM Pontianak, yakni dari sembilan naga tahun lalu, kini menjadi 14 naga,” kata Sutarmidji dalam sambutannya pada puncak Perayaan Cap Go Meh di Pontianak, Senin.
    Apalagi menurut dia, Perayaan CGM tahun 2016 dimeriahkan oleh replika naga langit dengan panjang 100 meter dan mempunyai kepala sebesar sebuah mobil keluarga, sehingga menambah kemeriahan perayaan hari kelima belas dalam kalender Imlek itu.
    “Saya berharap kebersamaan multi etnis di Kota Pontianak ini terus terjaga, sehingga perekonomian di Pontianak akan terus berkembang dari sebelum-sebelumnya,” ujar Sutarmidji.
    Dalam kesempatan itu, Wali Kota Pontianak menambahkan, pihak luar sebelum berinvestasi kepada suatu daerah akan melihat situasi keamanan dulu.
    “Di Kota Pontianak masyarakatnya multi etnis tapi bisa menyatu dan hidup bertoleransi sehingga tercipta iklim yang kondusif, dan berdampak meningkatnya perekonomian,” ujarnya.
    Dia mencontohkan, PAD Kota Pontianak tahun 2009 dari sektor pajak hanya sekitar Rp50 miliar, kini sudah meningkat menjadi Rp350 miliar pada tahun 2015.
    “Hal itu menunjukkan perekonomian Pontianak meningkat, Hal itu tidak terlepas dari peran serta semua masyarakat dalam membayar pajak, dan terciptanya kondisi keamanan yang kondusif,” katanya.
    Sutarmidji berharap, kawasan Jalan Gajahmada menjadi pusat interaksi berbagai etnis di Kota Pontianak. “Kami juga mendukung berbagai etnis dalam melakukan atraksi, sesuai dengan slogan Pontianak menyapa dunia,” ujarnya.
    Terkait, tidak adanya atraksi tatung di Kota Pontianak dalam Perayaan CGM. Sutarmidji menyatakan, kalau di Pontianak juga ada atraksi tatung, maka orang tidak akan ada yang ke Kota Singkawang. “Biarlah Kota Singkawang dikenal dengan atraksi tatungnya, dan Kota Pontianak dikenal dengan atraksi naganya,” katanya.
    Sementara itu, Ketua Panitia Perayaan Cap Go Meh Kota Pontianak 2016, Riko Sugiarto menyatakan, ada sebanyak 14 reflika naga, baik milik yayasan pemadam kebakaran maupun milik perorangan warga Tionghoa Kota Pontianak, melakukan ritual bersih-bersih di kawasan pecinan kota itu, yakni di sepanjang Jalan Gajahmada dan Tanjungpura pada puncak Perayaan CGM tahun 2016 di Kota Pontianak.
    “Atraksi dan pawai replika naga ini, kami percaya membersihkan kawasan Kota Pontianak dari pengaruh roh-roh jahat. Sebelumnya naga-naga tersebut telah melakukan ritual ‘naga buka mata’ di kelenteng-kelenteng, agar diberi kekuatan dari kayangan untuk mengusir pengaruh roh-roh jahat,” katanya.
    Adapun naga-naga yang melakukan ritual bersih-bersih dan pawai naga pada Cap Go Meh tahun 2016 dan telah melakukan ritual buka mata, diantaranya milik perorangan, yakni replika naga Merah Putih, Surya Mas, Mutiara Cakra, Bakti Suci, dan Naga Langit.
    Selanjutnya, replika naga milik Yayasan Pemadam Kebakaran (YPK) Siantan, Khatulistiwa, Budi Pekerti, Panca Bhakti, dan dua naga dari MABT (Majelis Adat Budaya Tionghoa), kemudian Naga Perdamaian, dan dari Seni Permainan Naga, Barongsai dan Tatung.
    “Replika naga yang bisa membersihkan Kota Pontianak dari pengaruh roh jahat, hanya naga yang sebelumnya menjalani ritual “naga buka mata” di kelenteng-kelenteng, karena sudah diberi kekuatan oleh naga dari langit,” ungkapnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com