• Sumsel Masih Didominasi Persawahan Lebak

    0

    Lahan sawah lebak warga Kecamatan SP Padang yang terendam air - FOTO RICO ~ Jurnalsumatra.comPALEMBANG, jurnalsumatra.com – Selama ini, petani sawah rawa lebak seringkali hanya bisa bercocok tanam satu kali dalam setahun. Itu pun masih saja dihantui kegagalan manakala banjir datang atau kemarau berkepanjangan. Sumatra Selatan sangat bergantung pada cuaca, menunggu kemarau untuk bertanam dan harus panen sebelum sawah tergenang ketika musim penghujan tiba.
    Padahal, Sumsel merupakan salah satu lumbung padi di Tanah Air yang menempati posisi keenam sebagai daerah penghasil. Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumsel Erwin Noor Wibowo mengatakan, indeks pertanaman sawah di provinsi itu masih banyak yang hanya satu kali tanam.
    “Memang masih banyak, tetapi kan kita tidak mungkin selamanya pasrah dengan alam, harus ada teknologi untuk meningkatkan indeks pertanaman itu,”
    Rawa lebak mendominasi tipologi lahan sawah di Sumsel, yakni sekitar 300.000 hektare dan seluas 198.208 ha masih satu kali tanam. Selain sawah lebak, IP satu kali juga terjadi di tipologi lahan sawah lainnya, seperti pasang surut seluas 188.987 ha dan tadah hujan seluas 41.472 ha. Hanya lahan irigasi saja yang IP 200-nya lebih banyak ketimbang IP 100, yaitu seluas 79.222 ha.
    Pemerintah daerah, kata Erwin, sebetulnya sangat membuka diri terhadap teknologi untuk peningkatan IP sawah lebak. “Kendala rawa lebak itu kan saat musim penghujan genangannya tinggi sehingga butuh metode pompanisasi untuk mengeluarkan, sementara saat kemarau butuh kanalisasi untuk mengairi,”
    Gayung bersambut, distributor beras nasional Topi Koki Grup mencoba menerapkan sistem tata air mikro di sawah lebak yang berada di Kecamatan Pemulutan, Kabupaten Ogan Ilir (OI), Sumsel.
    Sukarta, Direktur Topi Koki Grup, mengatakan pihaknya “berburu” solusi untuk tata air mikro sawah lebak itu hingga ke Vietnam. “Kami studi banding sampai Vietnam karena kondisinya hampir sama dengan sawah lebak di Sumsel, bahkan di sana bisa banjir sampai 3 meter tetapi mereka bisa tanam dua sampai tiga kali dalam setahun,” katanya saat penanaman padi perdana di Desa Pelabuhan Dalam, Kecamatan Pemulutan, Kabupaten OI, Sumsel.
    Sebetulnya, sistem yang diterapkan pihaknya cukup sederhana dan bisa ditiru para petani, yaitu pompanisasi dan kanalisasi.
    Sukarta menjelaskan, pompa yang dipakai itu merupakan hasil studi banding di Vietnam dan bisa dirakit sendiri dengan biaya terjangkau oleh petani. “Pembuatan pompanya butuh biaya sekitar Rp20 juta – Rp30 juta, kami pikir kelompok tani bisa menerapkannya,”
    Sukarta mengatakan, pompanisasi dan kanalisasi itu sangat cocok diterapkan di sawah bertipologi rawa lebak dan pasang surut yang tersebar di Sumatra maupun Kalimantan. “Syaratnya harus ada akses sungai. Sumsel punya berkah, anak sungainya kemana-mana, kalau tidak ada anak sungai mau dibuang kemana”
    Menurut dia, produktivitas sawah lebak pun diyakini dapat mencapai 8 ton per ha dengan tata air mikro tersebut dari semulai berkisar 3 ton – 6 ton per ha.
    Dengan potensi luas lahan pasang surut dan rawa lebak di Sumsel yang cukup luas, kata Sukarta, pihaknya optimistis mampu menghasilkan panen minimal dua kali dalam setahun.
    “Jika memanfaatkan sistem irigasi baru ini diperkirakan mampu dua kali tanam dan akhirnya meningkatkan produksi beras Sumsel secara signifikan,”(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com