• Strategi Kebudayaan Nasional

    0
    Muhammad Aufal Fresky

    Muhammad Aufal Fresky

    Sudah sekian lama Indonesia berada dalam pergaulan internasional. Bangsa ini berada di antara pusaran globalisasi. Perkembangan komunikasi dan transportasi turut mendorong tumbuh kembangnya Indonesia di segala aspek. Mulai dari ekonomi, sosial, pertahanan dan semacamnya. Tentu di balik manfaat yang diberikan oleh megahnya globalisasi, pastinya ada beberapa dampak negatif yang akan ditimbulkan. Semisal bangsa ini mulai berada di tengah-tengah tarikan massifnya kebudayaan dari berbagai negara di dunia. Apalagi, internet bukan hal yang asing di hadapan masyarakat Indonesia masa kini. Dewasa ini, masyarakat kita secara tidak sadar disuguhkan oleh berbagai macam pola hidup yang memang tidak menggambarkan identitas luhur bangsa. Sebut saja ketidakpedulian masing-masing individu terhadap individu lainnya. Itulah pemahaman yang tidak sesuai dengan karakter bangsa. Budaya individualis semacam itu mudah ditemukan di tengah masyarakat kita. Dalam menghadapi pusaran budaya global, diperlukan bebrapa strategi dari pihak pemerintah dan masyarakat yang peduli terhadap pembentukan karakter bangsa.

    Salah satu elemen masyarakat yang rawan terpengaruh budaya asing biasanya adalah kawula muda. Sebagian dari kawula muda Indonesia hanya menerima tanpa berusaha menyaring berbagai budaya asing yang masuk. Padahal budaya tersebut bisa saja mendegradasi kepribadian dan watak luhur pemuda itu sendiri. Sebut saja, gaya hidup yang serba glamour yang kerap kali ditampilkan oleh berbagai artis mancanegara juga menjadi refrensi gaya hidup pemuda Indonesia. Padahal gaya hidup semacam itu tidak sesuai dengan nilai-nilai luhur serta kepribadian bangsa. Pemuda mulai diombang-ambingkan oleh gencarnya budaya luar yang masuk ke dalam negeri. Mulai dari cara berpakaian, cara makan, pola komunikasi, musik, dan sebagainya. Tak heran sebagian dari pemuda kita mulai kehilangan jati dirinya. Mereka mulai kehilangan identitas nasional sebagai sebuah bangsa yang juga memiliki aneka ragam kebudayaan. Bangsa kita adalah bangsa yang kaya akan kebudayaan. Mulai dari seni musik, tari-tarian, makanan tradiionl, pola hidup, gotong royong, tata krama dan semacamnya.

    Sebagian dari kita terkadang merasa inferior dengan segala hal yang dilahirkan dari Nusantara. Selalu menganggap semua hal yang dari luar adalah kemajuan luar biasa yang mesti di ditiru. Padahal jika dilihat dari tinjauan historis, bangsa ini pernah memiliki masa lalu yang begitu gemilang. Masa dimana bangsa ini pernah menjadi pusat peradaban dan tolak ukur berbagai bangsa kala itu. Sehingga tak heran jika sampai sekarang beragam kebudayaan dilahirkan dari rahimnya perjalanan bangsa ini. Baik itu kebudayaan materil (candi, gedung bersejarah, dll) maupun kebudayaan immateril (nilai-nilai hidup, musik, tari-tarian, dll).

    Masih ingatkah kita dengan Trisakti yang sering didengungkan oleh Bung Karno. Trisakti adalah suatu konsep dan gagasan besar yang perna digagas oleh Bung Karno. Isinya yaitu: 1) Berdaulat di bidang politik; 2) Berdikari di bidang ekonomi, dan 3) Berkepribadian di bidang kebudayaan. Kita fokus pada poin nomor 3 yang menyinggung masalah kebudayaan. Intinya sebagai sebuah bangsa yang besar hendaknya kita menjadikan kebudayaan nasional sebagai sebuah pijakan dalam cara berpikir dan berbuat. Sebut saja gotong royong. Tentunya kita sering mendengar istilah gotong royong, tetapi di antara kita kurang memahami bahwasanya gotong royong adalah sebagian dari kebudayaan nasional yang bersifat immaterial. Gotong royong merupakan kerjasama atas dasar sukarela antar individu dalam masyarakat melakukan suatu hal. Semisal dalam acara kebersihan di suatu kampung dan sebagainya. Tentunya untuk melestarikan nilai-nilai luhur serta budaya luhur di tengah masyarakat diperlukan strategi tertentu.

    Saya menamakan strategi tersebut sebagai strategi kebudayaan nasional. Strategi tersebu bertujuan agar seluruh masyarkat Indonesia terutama kawula mudanya agar bangga dengan berbagi macam kebudayaan nasioal serta turut pula berpartisipasi dalam melesatarikannya. Strategi tersebut dibagi melalui dua jalur. Pertama, melalui jalur pendidikan. Artinya setiap institusi pendidikan, terutama guru/ dosen yang berhadapan langsung dengan murid agar senantiasa memperkenalkan serta menananmkan kepada peserta didiknya terkait urgensi melestarikan kebudayaan nasional di tengah arus globalisasi. Sistem pendidikan yang ada perlu dikoreksi dan dievaluasi, apakah selama ini telah efektif dalam menanamkan kepada siswa/ mahasiswa terkait pentingnya mengetahui dan memahami kebudyaan Indonesia. Semua itu harus diatur melalui sistem dan mekanisme yang jelas. Para peserta didik harus diberikan pemahaman serta contoh nyata terkait kebudayaan materil dan immateril yang dimiliki oleh bangsa ini.

    Kedua, yaitu melalui jalur politik. Artinya, para pemegang kekuasaam harus memberikan dorongan terkait pelestarian kebudayaan nasional. Eksistensi kebudayaan bangsa adalah sebagai salah satu bentuk masyarakatnya benar-benar mencintai negerinya dari segala sisi, termasuk dari sisi kebudayaan. Jalur politik tersebut lebih dikhususkan kepada para legislator yang bertindak sebagai perumus UU atau perancang regulasi. Intinya harus ada aturan dan regulasi yang mendorong eksistensi kebudayaan nasional Indonesia agar tidak punah di tengah pergaulan internasional. Kebudayaan di sini bukan hanya candi atau gedung bersejarah, tetapi nilai luhur itu sendiri harus menjadi prioritas untuk dilestarikan melalui payung hukum yang ada. Semoga kita menjadi bangsa yang menghargai budayanya sendiri.

    Penulis : Muhammad Aufal Fresky ( Mahasiswa S1 Program Studi Ekonomi Pembangunan Universitas Airlangga/ Anggota DPO (Dewan Pertimbangan Organisasi) LPM Mercusuar Unair/ Aktivis HmI Komisariat Ekonomi Airlangga/ Ketua “Komunitas Airlangga Menulis”)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com