• Satu Warga Yogyakarta Meninggal Akibat DB

    0

    Yogyakarta, jurnalsumatra.com – Seorang warga Kota Yogyakarta meninggal dunia akibat menderita demam berdarah dengue dan sepanjang Januari tercatat 68 kasus demam berdarah di wilayah.
    “Jumlah kasus demam berdarah sepanjang Januari tahun ini menurun dibanding tahun lalu yang mencapai sekitar 90 kasus. Namun, kewaspadaan terhadap penyakit ini tidak boleh berkurang,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta Fita Yulia di Yogyakarta, Kamis.
    Menurut dia, Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta sudah melayangkan surat edaran ke kelurahan, kecamatan dan puskesmas untuk terus meningkatkan kewaspadaan terhadap penyakit demam berdarah.
    Kondisi cuaca yang kerap berubah-ubah meskipun saat ini memasuki musim hujan, lanjut Fita, juga memicu perkembangbiakan nyamuk termasuk nyamuk aedes aegypti sebagai pembawa virus demam berdarah.
    “Oleh karena itu, gerakan 3M harus terus dilakukan yaitu menutup tempat penampunga air, mengubur barang bekas yang bisa menampung air meskipun sedikit, dan menguras tempat penampungan air secara berkala,” katanya.
    Selain untuk mencegah penularan demam berdarah, peningkatan kebersihan lingkungan juga harus dilakukan guna menghindari penyebaran penyakit lain, salah satunya virus zika yang juga disebarkan oleh nyamuk aedes.
    “Salah satu ciri yang harus diwaspadai adalah demam tinggi. Jika mengalami demam tinggi, segera saja diperiksakan ke puskesmas atau fasilitas kesehatan lain. Semakin cepat ditangani, maka pengobatan bisa dilakukan lebih baik,” katanya.
    Berdasarkan data, kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta sepanjang 2015 meningkat hampir dua kali lipat dibanding 2014 yaitu mencapai 945 kasus dengan 11 kematian atau 1,1 persen dibanding jumlah penderita. Sedangkan pada 2014 tercatat 418 kasus dengan tiga kematian.
    Wilayah dengan kasus demam berdarah terbanyak berada di Sorosutan, Klitren, Muja-Muju dan Kricak dengan rata-rata terdapat 40 kasus demam berdarah.
    Jika dibanding 2014, maka terjadi pergeseran wilayah dengan jumlah kasus demam berdarah tertinggi. Pada 2014, kasus tertinggi berada di Kelurahan Wirobrajan, Wirogunan, Sorosutan dan Mantrijeron.
    Berdasarkan data tahun lalu, peningkatan kasus demam berdarah di Kota Yogyakarta terjadi mulai awal tahun hingga Maret dengan rata-rata kasus mencapai sekitar 100 kasus per bulannya. Kasus terbanyak ditemukan pada anak usia tujuh hingga 12 tahun.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com