• Pencatut Nama Wali Kota Bandarlampung Palsukan Identitas

    0

        Bandarlampung, jurnalsumatra.com – Komplotan penipu yang mencatut nama Wali Kota Bandarlampung terpilih Herman HN berhasil mengelabui korbannya dengan iming-iming mendapatkan jabatan tinggi asalkan memberi sejumlah uang, diketahui memalsukan identitas untuk membuat korban mempercayainya.
    Kepala Sub-Direktorat Reserse Kriminal Umum III Polda Lampung AKBP Rully Andi Yunianto di Bandarlampung, Selasa, mengatakan, para tersangka pencatut nama wali kota terpilih Bandarlampung Herman HN itu kedapatan telah memalsukan identitas dan kartu keluarga untuk memperlancar penipuan pindah tugas PNS ke Pemkot Bandarlampung.
    “Mereka merencanakan dengan matang agar korban percaya bisa pindah tugas dengan jabatan setingkat kepala dinas di Pemkot Bandarlampung, bahkan identitas palsu dipergunakan untuk membuat kartu keluarga sehingga bisa membuka rekening bank atas nama Herman Hasanusi dan Triyono,” kata Rully.
    Menurut dia, rekening tersebut dibuat untuk keperluan transfer uang dari korbannya, sehingga dibuat semirip mungkin dengan nama Wali Kota Bandarlampung terpilih Herman HN.
    Keempat tersangka penipuan tersebut ditangkap Tim Khusus Antibandit 308 Kepolisian Daerah Lampung, Sabtu (13/2), setelah sebelumnya diketahui identitasnya.
    Mereka adalah Jamaliyun (44) warga Jalan Cipto Mangunkusumo Gang H Rebo, Heru Firmansyah (34), dan Taufan Firdaus (32) kakak beradik warga Jalan Ikan Kapasan Telukbetung, dan Jalan Urip Sumoharjo, serta oknum PNS Kecamatan Padangratu Lampung Tengah, Salahudin (52) merupakan warga Jalan Hasanudin Telukbetung Bandarlampung.
    “Masing-masing tersangka memiliki peran sendiri, seperti Salahudin yang merupakan oknum PNS itu bertindak sebagai penyuplai dana untuk membuka rekening di tiga bank, yaitu BNI dan Bank Lampung,” kata dia lagi.
    Sedangkan Heru Firmansyah bertindak seolah sebagai ajudan Wali Kota Bandarlampung Herman HN yang bernama Sandri, untuk memperkuat penipuan yang mereka lakukan.
    Setelah berpura-pura menjadi ajudan wali kota, Heru kemudian memerintahkan adiknya sendiri Taufan Firdaus untuk membuat rekening dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atas nama Herman Hasanusi.
    “Rencana mereka berhasil, sehingga korban atau pelapor Jhondrawadi tertipu dan melakukan pengiriman uang sebesar Rp307 juta kepada para tersangka,” ujarnya.
    Otak dari pelaku penipuan tersebut adalah Jamaliyun yang sebelumnya telah bertemu korban yang juga PNS di lingkungan Pemerintah Kabupaten Pesawaran itu.
    “Otaknya ya Jamaliyun, karena semua perencanaan hingga menyuruh Heru berpura-pura menjadi ajudan wali kota dirancangnya,” katanya lagi.
    Pihak kepolisian masih melakukan penyidikan atas kemungkinan adanya korban penipuan lainnya. “Sampai sekarang, baru satu laporan dari Jhondrawadi itu saja,” ujar Rully.
    Akibat perbuatan tersebut, keempat tersangka dijerat Pasal 372 KUHP tentang Penggelapan dan Pasal 378 KUHP tentang Penipuan dengan ancaman pidana lima tahun penjara.
    Sebelumnya, Tim Khusus Antibandit 308 Kepolisian Daerah Lampung menangkap para tersangka pelaku penipuan, dan salah satunya merupakan oknum pegawai negeri sipil di daerah itu.
    “Para tersangka ini melakukan penipuan dengan modus mencatut nama Wali Kota Bandarlampung terpilih Herman HN untuk melancarkan aksinya,” kata Direktur Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Lampung Kombes Zarialdi pula.
    Menurut dia, para tersangka menipu dengan menawarkan korban bisa menjadi pejabat setingkat kepala dinas (kadis) di lingkungan Pemkot Bandarlampung asalkan mampu memberikan dana yang mereka minta.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com