• Pembinaan Mantan Anggota Gafatar Ditangani Empat POKJA

    0

    Sampit, Kalteng, jurnalsumatra.com – Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, membentuk empat kelompok kerja untuk membina mantan anggota Gerakan Fajar Nusantara di daerah ini.
    “Sesuai instruksi gubernur maka akan dilakukan pembinaan. Penjabat bupati sudah mengeluarkan surat keputusan membentuk kelompok kerja yang akan menangani masalah ini,” kata Sekretaris Daerah Kotawaringin Timur (Kotim) Putu Sudarsana di Sampit, Senin.
    Putu memimpin rapat lanjutan penanganan mantan anggota Gafatar. Berdasarkan data, ada 11 kepala keluarga terdiri dari 48 jiwa mantan anggota Gafatar tersebar di sejumlah kecamatan di Kotawaringin Timur.
    Kelompok kerja yang dibentuk terdiri dari banyak unsur terkait, seperti Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat, Kepolisian, Kodim 1015 Sampit, Kejaksaan Negeri Sampit, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Dinas Pendidikan, tokoh lintas agama dan pihak terkait lainnya.
    Beberapa poin penting yang akan dilakukan empat kelompok kerja tersebut di antaranya adalah tentang pengembalian ideologi dan agama, pembinaan tentang Negara Kesatuan Republik Indonesia, pembinaan secara keseluruhan menyangkut pendidikan serta hal penting lain.
    “Empat pokja membuat rencana kegiatan yang akan dilaksanakan. Nanti tanggal 4 Februari akan ada rapat lagi terkait langkah oleh empat pokja. Rapat tadi banyak menyarankan (mantan anggota Gafatar) dikumpulkan dulu karena akan sulit membina tanpa mengumpulkan mereka,” kata Putu.
    Kegiatan pembinaan ini akan disokong anggaran Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat. Namun jika tidak mencukupi, maka maka pemerintah daerah wajib untuk membantu kekurangannya.
    Pengurus Gafatar pernah mengajukan pendaftaran organisasi mereka kepada Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Kabupaten Kotim. Namun sesuai instruksi Mendagri, organisasi ini dilarang sehingga pemerintah daerah dengan tegas menolaknya.
    Tidak seperti di daerah lain yang umumnya hidup mengelompok, mantan anggota Gafatar di Kotim berbaur dengan masyarakat lainnya dengan profesi mereka sebagai pedagang dan pekebun.
    Inilah yang menjadi salah satu pertimbangan pemerintah daerah karena menilai mereka masih bisa dibina sehingga tidak perlu dipulangkan ke daerah asalnya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com