• Pejabat: Banyumas Tidak Mendapat Alokasi Jagung Impor

    0

    Purwokerto,jurnalsumatra.com – Wilayah eks Keresidenan Banyumas yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara, tidak mendapat alokasi jagung impor, kata Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional Banyumas Setio Wastono.
    “Kita belum mendapat alokasi jagung impor. Sementara ini, alokasi jagung impor baru dilakukan di beberapa kota besar, antara lain Tangerang, Semarang, Cirebon, dan Surabaya,” katanya di Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Selasa.
    Menurut dia, salah satu alasan Banyumas tidak mendapat alokasi jagung impor adalah kebutuhan komoditas tersebut di wilayah itu tidak terlalu tinggi.
    Oleh karena

    itu, kata dia, kebijakan impor jagung yang diambil pemerintah tidak meresahkan petani di wilayah Banyumas.
    Kendati demikian, dia mengakui bahwa harga jagung pada awal Februari telah mencapai Rp6.500 per kilogram.
    Dalam kondisi normal, lanjut dia, harga jagung berada pada kisaran Rp3.000-Rp4.000 per kilogram.
    Salah seorang petani jagung di Desa Beji, Kecamatan Kedungbanteng, Banyumas, Parno mengaku tidak takut terhadap jagung impor yang akan masuk pasar Indonesia.
    “Kualitas jagung lokal lebih bagus dari jagung impor. Biasanya, jagung impor apak karena perjalanannya jauh dan sebelumnya juga disimpan di gudang,” kata dia yang memiliki lahan jagung siap panen seluas 1.400 meter persegi.
    Seperti diwartakan, pemerintah telah menunjuk Perum Bulog untuk mengimpor jagung sebanyak 600.000 ton pada kuartal pertama 2016 sebagai salah satu upaya stabilisasi harga komoditas tersebut di pasaran.
    Kenaikan harga jagung yang mencapai 100 persen berdampak pada kenaikan sejumlah bahan pangan di antaranya ayam potong, telur, dan tepung jagung.
    Jagung merupakan salah satu bahan utama dalam produksi pakan ternak.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com