• PDIP Anggap PILKADA KALTENG Terburuk Sepanjang Sejarah

    0

    Palangka Raya, jurnalsumatra.com – Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menganggap pelaksanaan pemilihan Kepala Daerah di Provinsi Kalimantan Tengah terburuk sepanjang sejarah pilkada di Indonesia karena kecurangan dilakukan secara sistematis dan masif serta melibatkan penyelenggara pemilu.
    Tim pasangan calon Gubernur/Wakil Gubernur nomor urut dua Willy M Yoseph-Wahyudi K Anwar memiliki lebih dari dua ribu pelanggaran yang dilakukan timses pasangan nomor satu Sugianto Sabran-Habib H Said Ismail, kata Kordinator Gugus Tugas Pemenangan DPP PDIP Deddy Yevri Sitorus di Palangaka Raya, Selasa.
    “Kecurangan yang kami temukan itu mulai dari C6 atau surat undangan memilih tidak disampaikan kepada ribuan pemilih, C1 tanpa tanda tangan Ketua KPPS tapi diaploud di website Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kalteng,” katanya.
    Selain itu juga ada politik uang tidak hanya dilakukan relawan tapi juga tim sukses resmi, intimidasi terhadap saksi dan berbagai kecurangan lainnya. Ini pilkada sangat brutal, bahkan terburuk sepanjang sejarah pelaksanaan pilkada di Indonesia.
    Dedi menegaskan tenang dan damainya pelaksanaan pilkada Kalteng bukan karena tidak ada kecurangan melainkan penyelenggara pemilu membiarkan bahkan diduga kuat ikut terlibat. Hal ini yang membuat PDIP meminta KPU RI maupun Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) RI segera ke Kalteng dan mengaudit penyelenggaraan Pilkada Kalteng.
    Dia mengatakan, kecurangan yang dilakukan pelaksana pemilu Pilkada Kalteng juga bisa dilihat dari pelaksanaan penghitungan suara di tingkat Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) yang seharusnya dilakukan dua hari setelah pemungutan, namun tanpa alasan yang jelas justru dilakukan sehari setelahnya.
    “Pemungutan suara Pilkada Kalteng dilaksanakan tanggal 27 Januari 2016, tapi penghitungan suara PPK dilakukan tanggal 28 Januari 2016. Perubahan itu dilakukan tanpa sosialisasi yang memadai. Kita tahu bersama, luas Kalteng ini 1,5 dari Pulau Jawa dan geografisnya sangat sulit, tapi penghitungan di tingkat PPK sehari setelah pemungutan suara. Ini ada apa,” ucapnya.
    Koordinator Gugus Tugas Pemenangan DPP PDIP ini menyebut jika berbagai kecurangan ini direspon dengan cara yang sama oleh tim pemenangan Willy-Wahyudi, maka dapat dipastikan kondisi provinsi berjuluk “Bumi Tambun Bungai” ini akan sangat kacau dan tidak damai seperti sekarang ini.
    Dia mengatakan, tim Willy-Wahyudi memiliki batas kesabaran, sehingga bila kecurangan tersebut tetap dilakukan saat pleno rekapitulasi di tingkat kabupaten/kota maupun provinsi, tentu hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.
    Sebab, sekarang ini Willy-Wahyudi sama sekali tidak melakukan apapun dan memberikan waktu terhadap penyelenggara pemilu di Kalteng ini sadar dan kembali bekerja secara profesional.
    Menurut dia, dua lembaga melakukan penghitungan cepat pada saat pemungutan suara pilkada Kalteng 27 Januari 2016, sama sekali tidak bisa menyimpulkan pasangan mana yang menang.
    “Hasilnya kan juga beda-beda serta tidak lebih dari 2.000 suara, tapi di website KPU Kalteng justru lebih dari 31 ribu. Ini data yang kami terima dari orang lapangan dua lembaga ini. Ini saya lihat ada penggiringan opini di masyarakat,” tegasnya.
    Dia memastikan bahwa PDIP selaku partai pengusung Willy-Wahyudi akan mengawal secara serius rekapitulasi suara di tingkat kabupaten/Kota dengan membuka kotak suara, karena ada dugaan permainan C1 dari paslon nomor 1 bersama penyelenggara pemilu.
    “Jangan sampai rekapitulasi dan pleno di tingkat Kabupaten/Kota tanpa membuka kotak suara. Ini implikasinya sangat serius. Kita bukan tidak mau menerima kekalahan, tapi kalau kalah dengan cara dicurangi, kita juga mampu melakukannya. Kalau memang itu maunya. Buka semua kotak suara dan lihat apa yang terjadi,” demikian Dedi.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com