• Panjat Tower Agar Ketemu Kakaknya

    0
    Panjat Tower Agar Ketemu Kakaknya

    Panjat Tower Agar Ketemu Kakaknya

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Hendriawan (16), bocah yang nekat memanjat tower dan membuat heboh seluruh pegawai kalangan Pemprov Sumsel dan warga yang melintasi Jalan Anwar Sastro Kecamatan IT I Palembang, ingin mencari keberadaan kakak perempuannya di Palembang.

    Hendriawan warga Kelurahan Bumi Jaya, Kecamatan Abung Timur, Kabupaten/Kota Lampung Utara, Provinsi Lampung. Ini diketahui dari Kartu Jamkesmas yang tergantung di lehernya.

    Hendriawan sempat menghebohkan Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan Satpol PP Provinsi Sumsel. Saat berusaha mencari saudara perempuannya yang bernama Susi, ia memanjat tower setinggi sekitar 50 meter.

    Usai memajat tower, remaja tersebut langsung dibawa ke Ruang Orang Telantar yang berada di Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Sumsel, Di sana dia diberi makanan dan minuman. “Saya memanjat tower, untuk mencari Mbak Susi, supaya mudah terlihat,” kata Hendriawan saat ditemui usai memanjat tower dibelakang Kantor Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi,

    Dia menambahkan, dirinya telah sampai di Kota Palembang sejak 2 hari yang lalu dengan berjalan kaki melewati Kota Martapura, Kabupaten OKUT.

    Dalam perjalannya dari Jakarta ke Kota Palembang, Hendriawan mengaku telah kehilangan barang-barang bawaannya, seperti baju, obat dari RS M Yusuf, surat jalan, 1 keris emas yang diperolehnya dari Jawa. “Saya bingung, susah bener nyarinya. Makanya manjat tower, Ingin bisa ketemu mbak dengan cepat,” ungkapnya.

    Remaja yang berusia 16 tahun ini diketahui mempunyai orang tua bernama Bapak Supriyadi, Ibu Warsiti di Malaysia juga. Sedangkan, kakek dan nenek bernama Ngadi dan Parmi. “Saya pergi dari rumah tidak bilang, mau nyari mbak (Susi) saya. Dulu saya sempat kerja di RS M Yusuf,” ungkapnya.

    Mbak Susi menurut pengakuan Hendriawan, telah pulang dari Malaysia. Hanya saja, sampai dengan saat ini tidak diketahui keberadaannya. Karena itu muncullah niatnya untuk mencari saudari kandungnya tersebut.

    Meski sempat dikatakan gila oleh lingkungan sekitarnya di Kelurahan Bumi Jaya. Karena, mencuri batu cicin punya kakeknya sendiri. Hendriawan mengaku merasa terkucilkan dilingkungan sekitar tempat tinggalnya. Dirinya tidak kuat menahan kekuatan magis yang terkandung didalam batu cincin milik kakeknya.

    “Dulunya sempat gila 3 bulan, kalau orang tahu sebenarnya pas. Akhirnya saya pergi, dan mencari jati diri saya. Saya dikucilkan masyarakat, hawanya panas dan pengen ngamuk saja,” jelasnya.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com