• Masyarakat Diminta Laporkan Penghulu Lakukan Pungutan Liar

    0

    Palembang,jurnalsumatra.com- Masyarakat diminta aktif melaporkan jika mendapati petugas wali negara pernikahan dan pencatatannya (penghulu) melakukan pungutan liar dengan meminta biaya tambahan dari yang ditetapkan oleh pemerintah.
    Kepala Kementerian Agama Kota Palembang, Sumatera Selatan, Alfajri Zabidi di Palembang, Selasa, mengatakan negara sudah menetapkan bahwa biaya pernikahan jika dilangsungkan di Kantor Urusan Agama gratis, sedangkan jika diundang ke rumah atau tempat lain hanya dibebani sebesar Rp600 ribu.
    “Jika ada yang meminta lebih dari Rp600 ribu, segera laporkan ke Kemendag. Nanti oknum penghulu ini akan dipecat dari jabatan fungsionalnya dan dipindahkan ke daerah terpencil,” kata Alfajri.
    Menurutnya, tindakan tegas harus dilakukan demi terwujudnya pelayanan publik yang prima sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 48 tahun 2015 tentang zona integritas.
    Apalagi, belum lama ini Dirjen Bimas Islam telah mengeluarkan surat edaran nomor II/1/2015 yang menghentikan perekrutan Pembantu Pegawai Pencatat Nikah (P3N) terhitung 26 Januari 2015.
    “Praktis dengan diberhentikannya 142 P3N di Palembang, membuat penghulu kembali berfungsi sebagaimana mestinya. Artinya, lahan mereka yang selama ini diambil P3N sudah kembali, tapi awas, ada suatu tanggung jawab yang berat yakni menjaga integritas sebagai pelayan publik,” kata dia.
    Ia mengemukakan saat ini jumlah penghulu di Palembang sebanyak 32 orang. Menurutnya, jika dilihat dari sisi jumlah masih kurang sekitar 22 orang.
    Namun, hal ini bisa disiasati asalkan warga mau menikah di Balai Nikah KUA yang ada di setiap kecamatan.
    “Asalkan menikah di KUA dan dalam jam kerja, kebutuhan masyarakat terhadap penghulu dapat terpenuhi. Masalahnya, masyarakat sendiri yang lebih senang menggelar acara sendiri di rumah atau di masjid,” kata dia.
    Ke depan, Kemendag akan gencar menyosialisasikan ke masyarakat mengenai nikah gratis di KUA ini.
    “Saat ini sejak mulai disosialisasikan tahun lalu, sudah ada sekitar 25 persen warga yang menggunakan Balai Nikah sebagai tempat nikah. Ini sudah suatu prestasi karena sebelumnya, sama sekali tidak ada,” kata dia.
    Andy Setiawan, warga Lorong Banten VI, Seberang Ulu II, mengatakan, lebih memilih menikah di Balai Nikah KUA Kecamatan Seberang Ulu II karena tidak mengeluarkan biaya.
    “Daripada mengeluarkan biaya sekitar Rp1 juta untuk penghulu, lebih baik nikah di KUA saja. Uang yang ada bisa digunakan untuk biaya lain, seperti mengontrak rumah setelah menikah,” kata Andy.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com