• Korban Merapi Bangun Museum Dokumenter Kebencanaan

    0

    Sleman, jurnalsumatra.com – Korban erupsi Gunung Merapi di hunian tetap Wukirsari Dusun Srodokan, Cangkringan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta membangun, museum dokumenter kebencanaan atau “Disaster Documentary Museum”.
    “Museum yang kami bangun secara mandiri ini guna mengenang erupsi Merapi 2010 yang meluluhlantakkan kampung kami,” kata Kepala Dukuh Gungan-Srodokan Totok Hartanto, Kamis.
    Menurut dia, ide awal pembangunan museum kebencanaan ini memang sudah sejak 2015 akhir, namun baru dapat terealisasi pada awal 2016 ini.
    “Ide membuat museum untuk dusun ini cukup sederhana.  Berawal dari kegelisahan akan hilangnya sejarah dusun yang pernah kami tinggali,” katanya.
    Ia mengatakan, saat erupsi dasyat Gunung Merapi 2010, atau tepatnya 5 November 2010, Dusun Srodokan luluh lantak setelah diterjang aliran lahar panas dari erupsi Gunung Merapi melalui aliran Sungai Gendol.
    “Jangan sampai kejadian yang juga melanda warga dusun ini hanya menguap hilang tertelan waktu. Sejarah harus tercatat dan terdokumentasikan meski hanya lingkup dusun,” katanya.
    Totok mengatakan, selama ini dari sekian banyak peristiwa dan bencana alam yang terjadi, jarang ada masyarakat yang lantas mendokumentasikanya dalam satu wadah, dan yang ada dibangun pemerintah atau lingkup komunal yang besar.
    “żSementara, setiap dusun di lereng Merapi tentu mengalami hal yang berbeda meski peristiwanya sama yakni Erupsi Merapi 2010. Museum ini juga sebagai ‘tetenger’ bagi warga dan generasi selanjutnya bahwa pernah terjadi Erupsi Merapi yang sangat besar pada 2010,” katanya.
    Ia mengatakan, selain sebagai “tetenger”, museum ini juga menjadi media pendidikan dan pengetahuan bagi masyarakat dan generasi selanjutnya.
    “Bagimana masyarakat tetap harus hidup selaras dengan alam dan waspada. Termasuk juga edukasi mengenai bagaimana penanggulangan bencana,” katanya.
    Museum Dokumenter Kebencanaan atau “Disaster Documentary Meseum” di huntap Wukirsari dusun Srodokan sengaja di buat sederhana. Museum meminjam bangunan Huntap yang belum ditempati.
    Dindingnya tersusun dari batako dan lantainya memang sengaja masih tanah.
    “Total uang yang dikeluarka untuk membuat museum sebesar Rp1.800.000, pembuatannya dibantu dari mahasiswa KKN UMY. Memang sengaja tembok masih batako dan lantainya tanah. Bangunan ini juga menjadi bagian dari kisah, bantuan untuk korban Merapi ya seperti ini,” katanya.
    Di dalam bangunan, terdapat sekitar 100 foto yang mengambarkan situasi Dusun Srodokan pada 5 November 2010 hancur diterjang lahar panas erupsi Gunung Merapi.
    Beberapa foto yang dipasang diantaranya, detik-detik turunya awan panas Merapi dan Lelehan Lava Merapi. Bahkan dipamerkan pula bagaimana suasana kepanikan warga dan situasi mengungsi, sampai dengan pascaerupsi dimana rumah-rumah di Dusun Srodokan tampak tinggal puing-piung yang tengelam tertutup material vulkanis Merapi.
    “Foto-foto yang dipasang semua asli hasil jepretan kamera warga. Ini belum diresmikan, masih dilengkapi,” katanya.
    Salah satu pemrakasrsa museum Lilik Rudy mengatakan, koleksi di Museum Dokumenter Kebencanaan dalam waktu beberapa hari ini akan akan dilengkapi dengan barang-barang warga seperti perabotan rumah tangga yang leleh dan rusak akibat lava panas.
    “Termasuk motor yang tinggal rangka setelah diterjang lava pijar Merapi. Kami juga akan melengkapi dengan film saat erupsi, evakuasi dan penanggulanganya. Lalu akan ditambah audio suara situasi saat detik-detik kejadian dulu,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com