• Koperasi Lebak Dorong Pelaku UKM Berkembang

    0

    Lebak, jurnalsumatra.com – Koperasi di Kabupaten Lebak, Banten mendorong pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) berkembang sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat juga penyerapan lapangan pekerjaan di daerah itu.
    “Kami minta lembaga koperasi masyarakat dapat menyalurkan penguatan modal kepada anggotanya yang juga pelaku UKM itu,” kata Kepala Bidang Koperasi Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Lebak Asep Wahyudin di Lebak, Minggu.
    Saat ini, lembaga koperasi milik masyarakat cukup tumbuh dan berkembang, sehingga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi juga penyerapan lapangan pekerjaan.
    Kehadiran koperasi dapat membantu para anggotanya mendapat suntikan penguatan modal untuk mengembangkan volume usahanya.
    Saat ini, perguliran dana koperasi di Kabupaten Lebak hingga mencapai Rp255 miliar dari 791 unit dengan anggotanya sebanyak 85.347 orang.
    Mereka lembaga koperasi yang mendorong pelaku UKM, di antaranya produk kerajinan tangan, anyaman bambu, dan makanan olahan tradisional.
    Para pelaku usaha itu dengan nilai investasi modal antara Rp5 juta-Rp10 juta.
    “Dengan tumbuhnya koperasi itu tentu bisa menumbuhkan usaha ekonomi masyarakat juga menyerap lapangan pekerjaan,” ujarnya.
    Ia mengatakan bahwa pemerintah daerah terus mendorong koperasi di tengah masyarakat, karena dapat meningkatkan kesejahteraan juga mendukung percepatan pembangunan.
    Lembaga koperasi, lanjut dia, dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat menjadi lebih baik.
    Di samping itu, pihaknya terus meningkatkan sumber daya manusia (SDM) melalui pelatihan manajemen, administrasi keorganisasian, dan keuangan bagi pengelola koperasi.
    Perkembangan koperasi di Kabupaten Lebak dapat mendorong ekonomi kreatif, seperti perajin emping, makanan tahu dan tempe, gula aren, dan dompet.
    Bahkan, produk pelaku ekonomi masyarakat sudah menembus pasar ekspor, seperti gula semut dan abon ikan.
    “Kami minta ke depan koperasi itu menjadikan kekuatan ekonomi masyarakat sekaligus dapat menciptakan lembaga keuangan untuk meningkatkan pengembangan usaha,” katanya.
    Asep menyebutkan dari 791 unit koperasi, yang dinyatakan tidak aktif sebanyak 158 unit.
    Koperasi yang tidak aktif tersebut, pemerintah daerah tetap memberikan pembinaan agar mereka bisa kembali beroperasi.
    Biasanya, kata dia, koperasi yang tidak aktif itu disebabkan mereka tak melaporkan kegiatan perkembangan manajemen koperasi, yakni rapat anggota tahunan (RAT) dan SHU.
    “Kami terus mengoptimalkan pembinaan bagi koperasi yang aktif maupun tidak aktif sehingga bisa membentuk lembaga usaha yang bisa meningkatkan ekonomi rakyat,” katanya.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com