• Kasus DBD Di Pasaman Mulai Menurun

    0

         Lubuk Sikaping, Sumbar, jurnalsumatra.com – Kasus Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Pasaman, Sumatera Barat, dalam satu minggu terakhir mulai mengalami penurunan.
    Plt Direktur RSUD Lubuksikaping Pasaman, Arnida, didampingi Kabid Perencanaan dan Pengembangan, Ardiwitra, Jumat, mengatakan bahwa pasien Demam Berdarah Dengue (DBD) yang dirawat di RSUD ini sudah mulai menurun.
    Saat ini pasien yang positif DBD dan masih dirawat di RSUD Lubuksikaping sebanyak lima orang, dan satu di antaranya adalah anak-anak.

         “Beberapa waktu lalu, pasien DBD rata-rata dalam satu hari masuk rumah sakit ini dua sampai tiga orang. Namun sejak satu minggu terakhir ini, banyak penurunannya,” kata Arnida.
    Sebelumnya, pasien DBD sejak Januari hingga awal Februari 2016 yang dirawat inap di RSUD Lubuksikaping mencapai 64 orang.
    Dinas Kesehatan setempat terus berupaya untuk memutus rantai penyebaran virus DBD dengan cara melakukan fogging pada lima titik, serta menggiatkan sosialisasi pemberantasan sarang nyamuk (PSM) kepada masyarakat setempat.

         Kepala Dinas Kesehatan Pasaman, Desrizal, melalui Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Nurhalimah mengatakan, saat ini pihaknya tengah melakukan fogging siklus dua pada dua kecamatan yang ditemukan kasus DBD.
    Ia menyebutkan, daerah yang dilakukan fogging tersebut seperti di Kecamatan Lubuksikaping terdapat empat titik yakni, daerah Salibawan, Pasar Mapun, Albari’u, dan Perumnas Tanjung Beringin.
    Sedangkan Kecamatan Panti, kegiatan fogging atau pengasapan itu dilakukan pada satu titik di Tanjung Medan.
    Pihaknya melakukan fogging untuk mencegah berkembang nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor penyebaran dan penularan Virus Dengue penyebab penyakit DBD.

         “Fogging hanya bisa membunuh nyamuk dewasa. Seminggu setelah fogging tak ada nyamuk karena memang usia nyamuk hanya delapan hari, namun setelah delapan hari, nyamuk bisa muncul kembali, makanya dilakukan fogging siklus dua,” ujarnya lagi.
    Dia menjelaskan, saat dilakukan pengasapan itu telur nyamuk tidak ikut mati, sehingga pihaknya mengimbau masyarakat setempat menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) dengan melakukan 3M, yakni menutup, menguras, dan mengubur benda-benda yang bisa digenangi air. Setiap nyamuk bisa bertelur hingga 60 butir.

         “Telur nyamuk tidak terlihat, dan bisa disembunyikan di kerak kamar mandi atau WC, benda lain seperti kaleng minuman dan tempat minum burung. Ketika kena air, telur nyamuk tersebut langsung menetas menjadi jentik kemudian menjadi nyamuk dewasa dan siap menggigit, sehingga untuk memutus rantai nyamuk harus dilakukan 3M atau memberikan bubuk abate,” katanya pula.
    Ia mengingatkan, untuk mencegah penyakit DBD perlu peran serta semua pihak, terpenting adalah kepedulian terhadap lingkungan yakni dengan pemberantasan sarang nyamuk.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com