• Jangan Gadaikan Aset Sumsel

    0
    jangan gadaikan aset sumsel

    jangan gadaikan aset sumsel

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – “Jangan gadaikan aset Pemprov Sumsel, jangan diswastakan aset Sumsel ini,” kata Heri, Koordinator Lapangan dalam orasinya. Saat menggelar aksi demo di DPRD Sumsel, mahasiswa yang mengatasnamakan dari Aliansi Mahasiswa Pemuda Peduli Masyarakat Sumsel setelah itu langsung menuju Kantor Gubernur Sumsel dengan tujuan menemui Alex Noerdin.

    salah seorang aksioner Eza Takia mengatakan menolak revitalisasi pasar Cinde menjadi “Plaza Cinde Aldiron” karena menghilangkan aset sejarah pasar tradisional Palembang. Kemudian menolak kerja sama bangun guna serah (BOT) antara pihak perusahaan dengan Pemprov Sumsel, karena tidak mengacu pada peningkatan dan percepatan bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat.

    Selain itu, mereka juga menuntut supaya menghentikan proses pembangunan terhadap proyek tersebut sebelum ada kejelasan kompensasi kepada masyarakat dan pedagang mikro. Mereka juga meminta Provinsi Sumsel mengkaji ulang tentang pembangunan rumah sakit eks Ernaldi Bahar, hotel dan revitalisasi pasar swalayan pasar Cinde. Namun, para mahasiswa itu tidak berhasil bertemu Gubernur Sumsel,

    Mereka meminta DPRD Sumsel menolak pengajuan surat Gubernur nomor 011/3260/BPKAD/2015 tentang rencana build operate transfer (BOT) lahan eks RS Ernaldi Bahar atau yang dikenal sebagai Rumah Sakit Jiwa dan Pasar Cinde Palembang. Menurutnya dengan menggadaikan aset Sumsel ke pihak swasta dengan jangka waktu yang cukup lama, pemerintah tidak berpihak kepada masyarakat Sumsel.

    Terlebih pasar Cinde merupakan aset sejarah, dimana di pasar tradisional itu banyak pedagang kecil yang menggantungkan hidupnya.

    “Jika menjadi pasar modern, mall apa pedagang kecil sanggup bayar sewa?,” teriaknya. Eza Koordinator Aksi mempertanyakan siapa yang bertanggungjawab pada aset Sumsel yang akan di BOT-kan tersebut.

    “Apa Gubernur dan DPRD Sumsel saat ini yang bertanggungjawab atas BOT yang jangkanya 28 tahun itu,” tambahnya. Menurutnya BOT tak akan berjalan tanpa persetujuan ketuk palu dari DPRD Sumsel. Sehingga pihaknya meminta DPRD Sumsel mengkaji ulang kontrak BOT tersebut.

    “Harusnya tim Pansus hadir disini, karena tanpa ketuk palu DPRD BOT tak akan berjalan,” sesal massa lantaran tam seorangpun anggota DPRD Sumsel yang menyambut aksinya.

    Sementara itu, Kurniati Sari Kasubag Aspirasi DPRD Sumsel, menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran DPRD Sumsel yang saat ini sedang kunjungan keluar kota.
    “Secepatnya aspirasi ini akan kami sampaikan kepada Pimpinan DPRD Sumsel. Sekali mohon maaf karena anggota DPRD tidak ada ditempat. Dan Sekwan sedang keluar,” tandasnya.

    Eza Takia mengatakan menolak revitalisasi pasar Cinde menjadi “Plaza Cinde Aldiron” karena menghilangkan aset sejarah pasar tradisional Palembang.

    Kemudian menolak kerja sama bangun guna serah/BOT antara pihak perusahaan dengan Pemprov Sumsel, karena tidak mengacu pada peningkatan dan percepatan bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat. Selain itu, mereka juga menuntut supaya menghentikan proses pembangunan terhadap proyek tersebut sebelum ada kejelasan kompensasi kepada masyarakat dan pedagang mikro.

    Mereka juga meminta Provinsi Sumsel mengkaji ulang tentang pembangunan rumah sakit eks Ernaldi Bahar, hotel dan revitalisasi pasar swalayan pasar Cinde.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com