• Gatot Akui Berikan Rp500 Juta Ke Maruli

    0

        Jakarta, jurnalsumatra.com – Gubernur Sumatera Utara non-aktif Gatot Pujo Nugroho mengaku memberikan Rp500 juta kepada mantan Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Maruli Hutagalung.
    “Nilainya Rp500 juta, di surat panggilan atas nama Maruli, di situ disebutkan Direktur Penyidikan merangkap pelaksana tugas Sekretaris Jampidsus (Jaksa Agung Muda Pidana Khusus),” kata  Gatot dalam sidang diperiksa bersama dengan istrinya Evy Susanti yang menjadi terdakwa dalam kasus dugaan pemberian suap kepada hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara serta suap kepada mantan Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Nasdem Rio Capella, di Jakarta, Rabu.
    Gatot menceritakan mengenai isi islah pada 19 Mei 2015 di Kantor DPP Nasdem Gondangdia yang dihadiri oleh Gatot Pujo Nugroho dan Wagub Tengku Erry Nuradi, Ketua Umum Partai Nasdem dan Ketua Mahkamah Partai Nasdem Otto Cornelis Kaligis.
    “Apa yang dilaporkan istri saudara?” tanya jaksa penuntut umum KPK Wawan Yunarwanto.
    “Yang dilaporkan ke istri saya sudah dikasihkan ke Maruli tapi saat kami dimintai keterangan Jamwas, apakah diberikan atau tidak di luar kontrak dan di luar sepengetahuan kami,” tambah Gatot.
    Maruli Hutagalung saat ini menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Jawa Timur.
    “Apakah pernah ketemu Maruli?” tanya jaksa.
    “Kenal saja tidak apalagi bertemu,” jawab Gatot.
    “Lalu apakah benar menerima?” tanya jaksa.
    “Yang pasti diminta Pak OC, diberikan atau tidak,  didistribusikan atau tidak, saya tidak tahu apakah ada pemberian,” jawab Gatot.
    “Jadi yang melaporkan pemberian itu istri saudara atau saudara OC Kaligis?” cecar jaksa.
    “Pernah melalui istri saya katanya (uang) yang kemarin itu sudah diserahkan ke Maruli. Dan dari Pak OC juga pernah dilaporksa, serta pada waktu dimintai keterangan di Jamwas Kejagung kami ceritakan bahwa oleh Pak OC diminta tapi apakah diserahkan atau tidak itu pak OC,” jawab Gatot.
    Dalam perkara ini, Gatot dan Evi didakwa menyuap hakim dan panitera Pengadilan Tata Usaha Negara senilai total 27 ribu dolar AS dan 5 ribu dolar Singapura untuk mempengaruhi putusan terkait pengujian kewenangan Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara sesuai dengan UU No 30 tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintahan atas Penyelidikan tentang dugaan terjadinya Tindak Pidana Korupsi Dana BOS, Bansos, BDB, BOS dan tunggakan DBH dan Penyertaan Modal pada sejumlah BUMD pada Pemerintah Provinsi Sumatera Utara yang kuasa hukumnya diserahkan kepada OC Kaligis.
    Gatot dan Evy juga didakwa menyuap mantan anggota Komisi III DPR 2014-2019 dari partai Nasdem Patrice Rio Capella sebesar Rp200 juta melalui Fransisca Insani Rahesti agar Rio Capella mengunakan kedudukannya untuk mempengaruhi pejabat kejaksaan Agung selaku mitra Kerja Komisi III DPR demi memfasilitasi silah guna memudahkan pengurusan penyelidikan perkara yang ditangani Kejaksaan Agung
    Atas perbuatan tersebut, Gatot dan Evy didakwa pasar berlapis yaitu pasal 6 ayat (1) huruf a atau pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP dengang ancaman pidana penjara paling singkat 3 tahun dan paling lama 15 tahun serta denda paling kecil Rp150 juta dan paling banyak Rp750 juta.
    Serta pasal 5 ayat (1) huruf a atau pasal 13 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20 tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP dengan ancaman penjara paling singkat 1 tahun paling lama 5 dan denda paling sedikit Rp50 juta dan paling banyak Rp250 juta.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com