• Dosen “IK” Bantah Lakukan Pembunuhan Berencana

    0

         Padang, jurnalsumatra.com – Kuasa hukum dosen “IK”, yaitu Wilson Syaputra, membantah bahwa pembunuhan yang dilakukan kliennya terhadap isteri “DY” telah direncanakan.
    “Tidak benar bahwa pembunuhan itu telah direncanakan sebagaimana yang ditutut jaksa melanggar pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana,” kata Wilson Syaputra, dalam sidang pembacaan pembelaan dari terdakwa di Pengadilan Negeri Padang, Senin.
    Menurutnya, pasal 340 KUHP yang dituntut jaksa itu tidak berasalan. Selain itu ia juga menyangkal video permintaan maaf yang ditujukan pada kedua anaknya oleh “IK”, sebelum melakukan pembunuhan.
    “Tidak ada korelasinya antara video permintaan maaf yang dibuat 3 April 2015 itu, dengan peristiwa pembunuhan yang terjadi pada Sabtu 4 April 2015,” tambahnya.
    Video tersebut, klaimnya, dibuat terdakwa yang merupakan dosen Universitas Andalas (Unand) itu dilatarbelakangi oleh kondisi kesendiriannya terdakwa pada libur panjang akhir pekan. Bukan karena telah merencanakan untuk menghabisi nyawa mantan isteri, serta nyawanya sendiri.
    Begitupun dengan keberadaan pisau sangkur di Tempat Kejadian Perkara (TKP) sama sekali tidak ada dipersiapkan.
    “Pisau tersebut memang sudah ada di rumah kota Marapal nomor 7 Padang tempat kejadian perkara,” jelasnya.
    Sementara majelis hakim, dalam sidang pembacaan pledoi itu juga menanyakan beberapa persoalan kepada pihak keluarga korban, serta terdakwa.
    Di antaranya adalah yang akan mengasuh kedua anak nantinya. Karena seperti diketahui DY telah meninggal dunia, sementara orang tua laki-lakinya “IK”, akan dipenjara.
    “Setelah terdakwa divonis nanti, siapa yang akan merawat dan membiayai kedua anak terdakwa yang masih kecil-kecil,” kata hakim ketua Badrun Zaini.
    Pertanyaan tersebut langsung dijawab oleh adik korban “DY” atas nama Andre. Ia mengatakan akan menanggung keponakannya itu, sesuai fungsi “mamak” di adat Minangkabau.
    “Saya ‘mamak’-nya pak hakim, saya yang akan merawat, membesarkan, dan membiayai hidup dari kemenakan saya,” katanya.
    Hanya saja, jawaban itu tidak serta merta membuat hakim percaya.
    “Saya tidak kasihan dengan terdakwa ataupun keluarga korban, saya kasihan dengam kedua anaknya. Jika saya beri hukuman maksimal kepada terdakwa yang merupakan ayah kandung dari anak korban, siapa yang akan bertanggung jawab terhadap biaya anak itu, dan siapa kelak yang akan menjadi wali nikah anak perempuanya,” jelasnya.
    Hakim juga menanyakan kepada terdakwa apakah bersedia untuk bertanggungjawab kepada kedua anaknya, setelah bebas dari penjara nanti.
    “Saya akan bertanggungjawab sepenuhnya pak hakim,” kata terdakwa IK.
    Hakim ketua juga menyarankan agar keluarga terdakwa meminta maaf kepada keluarga korban, dengan cara yang lebih santun dan manusiawi agar tidak ada dendam diantara dua keluarga itu.
    Sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Padang, yaitu Sudarmanto, menuntut perbuatan terdakwa melanggar Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.
    Sementara untuk hukuman, jaksa menuntut dengan hukuman penjara selama 20 tahun.
    Hukuman yang dituntut itu adalah ancaman paling ringan yang ada dalam pasal 340 KUHP itu, paling berat adalah hukuman mati, dan kedua seumur hidup.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com