• Disdikpora Palembang Tertibkan Pendidikan Non Formal

    0

    logo_tutwurihandayaniPALEMBANG, jurnalsumatra.com – Dinas Pendidikan Pemuda dan Olah Raga (Disdikpora) kota Palembang akan segera menertibkan satuan pendidikan non formal. Pasalnya, dari 565 satuan pendidikan, hanya 97 yang sudah memiliki akreditasi, sisanya belum memenuhi standar sesuai ketentuan. Kepala Bidang Pendidikan Non Formal (PNF) Bahrin SPd, mengatakan, 565 satuan pendidikan non formal tersebut, terdiri dari 301 Taman Kanak kanak (TK), 204 Kelompok bermain (KB), 5 Tempat Penitipan Anak (TPA) dan 55 Satuan Paud Sejenis (SPS).

    ‘’ Akreditasi ini ada tiga macam, A, B dan C Yang memiliki akreditasi A sebanyak 5 lembaga, B sebanyak 39 dan C sebanyak 16 lembaga. Sisanya 37 lembaga ini memang sejak dari dulu berdiri belum ada penilaian akreditasi, buat sisa 468 ini belum memiliki akreditasi,” katanya,Selasa (16/2)

    Memang untuk mendapatkan akreditasi ini kata Bahrin, penilaian dilakukan setiap 4 tahun sekali, pastinya lembaga harus memenuhi standar akreditasi mulai dari sarana, parasana dan tenaga pendidik harus dipenuhi, “kalau syaratnya sudah dipenuhi bisa saja dari 468 lembaga tersebut mempunyai akreditasi masing masing,” jelasnya

    “Bagi lembaga pendirian PAUD ilegal atau bodong yang tidak terdaftar di Disdikpora tentunya mereka tidak akan mendapatkan bantuan pendidikann dari pemerintah ,bahkan merekapun akan diberikan sangsi penutupan jika kedapatan tidak mendapatkan izin dari Disdikpora,” tegasnya.

    Ditambahkannya lagi, dihimbau kepada seluruh satuan PAUD agar tidak memaksakan anak-anak PAUD belajar calistung, “akan tetapi untuk pengenalan saja itu tidak apa-apa, soalnya PAUD itu diajarkan buat bermain dan pengenalan, bukan belajar,” ujarnya.

    “Calistung tidak diperbolehkan dalam kurikulum pendidikan anak usia dini. Sebab, idealnya anak-anak murid siswa pada usia PAUD hanya dikenalkan huruf dan angka tanpa harus dipaksa membaca dan berhitung, Bukan masalah calistungnya, tapi bagaimana cara mengenalkan membaca dengan memberi stimulasi halus motoriknya,” paparnya.

    Bahrin mengatakan, pada anak usia dini yang notabene berada pada periode emas tumbuh kembang anak sangat penting dikenalkan pada keaksaraan. Karena pada periode emas tersebut otak akan paling banyak menyerap apa yang dilihat dan didengar oleh anak.

    “Mengenalkan keaksaraan pada anak adalah dengan mengenalkan aksara yang berhubungan dengan dirinya sendiri terlebih dahulu seperti mengenalkan cara menyebut nama anak sendiri, nama orangtua, saudara dan teman-temannya,” pungkasnya.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com