• Di Sumsel Terjadi 1.062 Kasus Kekerasan Perempuan/Anak

    0

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) Provinsi Sumatera Selatan mencatat 1.062 kasus kekerasan pada perempuan dan anak terjadi sepanjang tahun lalu.

    BP3A Kota Palembang merupakan daerah yang menerima laporan terbanyak diantara daerah lain yakni 255, disamping laporan yang diterima BP3A Sumsel yakni 300 kasus.

    Kepala BP3A Provinsi Sumsel Susna Sudarti menuturkan, baru 15 kabupaten/kota yang melapor. Dua daerah yang belum melaporkan kasus sepanjang tahun 2015 yakni Ogan Komering Ulu (OKU) Timur dan OKU Selatan.

    “Kalau OKU Selatan hingga saat ini memang belum ada P2TP2A (Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak-red). Alasan belum terbentuknya disampaikan karena belum ada anggaran. Kita harap tahun ini sudah bisa terbentuk,” ujarnya.

    Secara rinci laporan kasus kekerasan perempuan dan anak yang tecatat di kabupaten/kota yakni Pagaralam dengan 32 kasus, OKU dengan 34 kasus, Empat Lawang 64 kasus, dan Muaraenim 50 kasus.

    Lalu ada 61 kasus di Banyuasin, 11 kasus di Ogan Ilir, 83 di Musi Banyuasin, 21 kasus di Musirawas 21 kasus, 25 kasus di Prabumulih 25 kasus, Lahat 34 kasus, Lubuk Linggau 2 kasus, OKI 37 kasus, PALI51 kasus, dan Muratara 4 kasus.

    Susna mengungkapkan, jumlah kekerasan pada perempuan dan anak yang terjadi sebenarnya di tengah masyarakat melebihi dari jumlah tersebut. Kebanyakan masyarakat masih takut, ragu, dan malu untuk melapor. Pihaknya hanya menerima laporan, pelayanan terbaru, dan membantu pendampingan kasus.

    Pihaknya pun menyediakan tenaga psikolog untuk membuat kenyamanan dan membangkitkan kembali mental mereka yang terpuruk. Sayangnya tak semua P2TP2A di daerah sudah memiliki tenaga psikolog. Karenanya Pemerintah Provinsi Sumsel selalu siap menyiapkan tenaga psikolog dan tenaga bantuan hukum jika diperlukan.

    Ia mengungkapkan, kekerasan yang paling banyak ditemukan yakni pada anak berupa pelecehan. Seperti yang baru-baru ini terjadi di Empat Lawang. Susna menjelaskan, P2TP2A memiliki prosedur tersendiri yakni jika ada korban yang mendapat tindakan kekerasan, maka pihaknya akan mengkonfirmasi terlebih dahulu.

    “Kami tanyakan permasalahannya dan apa yang terjadi pada dirinya. Jika terjadi pelecehan seksual, maka akan kita dampingi hingga ke kepolisian. Dalam hal ini Polda Sumsel,” kata dia.

    Nantinya, kepolisian yang akan melakukan pemeriksaaan dan kepengurusannya. Namun pihaknya tidak akan lepas tangan, P2TP2A akan mendampingi kasus tersebut, terlepas ada yang langsung melapor ke kepolisian, pihaknya pun tempat mendampingi. “Mereka melapor langsung ke Polresta, namun kita juga mendampingi. Kami datangi dan berikan konseling kepada korban. Kami kirim psikolog kesana,” tandasnya.(yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com