• Bea Cukai Sulawesi Gagalkan Penyeludupan 790 Balpres

    0

         Makassar, jurnalsumatra.com – Tim Patroli Bea Cukai Kantor Wilayah Sulawesi yang didukung oleh Direktorat Kepolisian Perairan (Ditpolair) Polda Sulawesi Selatan, Lantamal VI TNI AL dan POM AD berhasil menggagalkan penyelundupan 790 balpres atau pakaian impor bekas.
    “Tim Patroli Bea Cukai ini dengan segala dukungan dari seluruh aparat penegak hukum mampu menggagalkan penyelundupan 790 balpres ini sebelum memasuki daratan,” ujar Kepala Kanwil Ditjen Bea Cukai (DJBC) Sulawesi Azhar Rasyidi di Makassar, Kamis.
    Didampingi Komandan Lantamal VI Laksamana Pertama TNI Yusup dan Dirpolair Polda Sulsel Kombes Pol Hari Sanyoto, Azhar mengatakan, penyelundupan pakaian bekas dari luar negeri semakin kencang.
    Karenanya, melalui Instruksi langsung dari Presiden Joko Widodo, impor pakaian bekas ini harus ditutup, apalagi jika dilakukan dengan cara yang tidak benar seperti penyelundupan.
    “790 bal pakaian bekas atau cakar kalau istilah orang Sulsel ini diangkut menggunakan kapal laut motor Rizki Abadi yang berasal dari Tawau, Malaysia. Barang ini akan diedarkan di wilayah Sulawesi Selatan,” katanya.
    Azhar menuturkan penangkapan kapal bermuatan pakaian bekas itu dilakukan pada 13 Februari lalu di Pelabuhan Pattirobaji Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Informasi awal diterima dari masyarakat terkait adanya barang ilegal di pelabuhan itu.
    Tim gabungan dari Direktorat Polisi Perairan Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Lantamal VI TNI AL, dan satuan Polisi Militer Angkatan Darat Kabupaten Bone lalu melakukan penggrebekan. Hasilnya, ditemukanlah barang bekas yang bernilai sekitar Rp3 miliar itu.
    Turut ditangkap tiga anak buah kapal masing-masing berinisial AR, AS, dan YY. Dalam penggrebekan itu, nakhoda kapal berhasil melarikan diri hingga saat ini.
    Menurutnya, pakaian bekas merupakan komoditi yang dilarang sesuai dengan peraturan Menteri Perdagangan Nomor 51/M-DAG/PER/8/2015 tanggal 9 Juli 2015.
    “Ini juga dapat mengganggu perekonomian negara khususnya bidang industri tekstil, selain dampak kesehatannya yang tidak terjamin karena memungkinkan adanya bakteri dan jamur dalam pakaian bekasnya,” jelasnya.
    Menurut Azhar, penyelundupan ini merupakan pelanggaran pasal 102 undang-undang nomor 17 tahun 2006 tentang perubahan atas undang-undang nomor 10 tahun 1995 tentang kepabeanan.
    Para tersangka diancam hukuman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan maksimal 10 tahun, serta denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 5 miliar.
    “Kami saat ini dalam proses penyidikan dan jika proses penyidikan ini telah dirampungkan, maka akan langsung kita limpahkan ke kejaksaan,” sebut Azhar.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com