• Bangka Barat Perlu Kembangkan Integrasi Perkebunan

    0

    Muntok, jurnalsumatra.com- Pemerintah Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mengajak masyarakat mencoba mengembangkan pola integrasi perkebunan tanaman keras dengan hortikultura untuk meningkatkan produksi pangan daerah.
    “Pola integrasi perlu dikembangkan untuk menyiasati semakin berkurangnya ketersediaan lahan yang bisa dimanfaatkan untuk perluasan sawah,” kata Kepala Bidang Planologi Dinas Kehutanan Kabupaten Bangka Barat, Idwin di Muntok, Sabtu.
    Selama ini upaya perluasan lahan sawah di daerah itu selalu terkendala dengan ketersediaan lahan, sedangkan masyarakat yang berminat menjadi petani semakin banyak sehingga mendorong untuk melakukan perluasan sawah di lahan yang berstatus kawasan hutan.
    “Kami merasa disudutkan karena seolah-olah tidak mendukung upaya penguatan ketahanan pangan daerah, padahal masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan tanpa harus mengganggu kawasan hutan,” kata dia.
    Menurut dia, dinas terkait terlebih dahulu melakukan optimalisasi lahan pertanian yang sudah ada, bisa dengan pola peningkatan produksi per masa tanam atau menambah jumlah penanaman yang biasanya setahun sekali menjadi dua kali.
    Selain pola optimalisasi lahan pertanian, kata dia, pemanfaatan lahan sela antartanaman perkebunan, kelapa sawit, lada dan karet bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pangan selain padi, seperti jagung, ubi jalar, ketela, kacang, kedelai dan lainnya.
    “Selama tanaman inti belum tumbuh besar, lahan sela antartanaman masih bisa dimanfaatkan,” katanya.(anjas)
    Ia mengatakan, jumlah kebutuhan pangan masyarakat dalam satu tahun sudah bisa diperkirakan dan data tersebut bisa dijadikan dasar dinas terkait untuk melaksanakan integrasi lahan perkebunan tersebut.
    “Selain memanfaatkan lahan sela antartanaman perkebunan, pekarangan rumah tinggal juga bisa dimanfaatkan sehingga produksi pangan daerah semakin meningkat dan bisa mengurangi ketergantungan pasokan pangan dari daerah lain,” kata dia.
    Menurut dia, ketersediaan lahan berstatus kawasan hutan di daerah itu hanya tersisa sekitar 35 hingga 40  persen dari luas seluruh wilayah kabupaten.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com