• Truk Diberi Toleransi Seminggu Bebas Masuk Kota

    0

    Sampit, Kalteng, jurnalsumatra.com – Truk angkutan berat, khususnya hasil perkebunan kelapa sawit, diberi toleransi satu minggu melintas di dalam kota Sampit Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sebelum ditertibkan.
    “Seharusnya mulai hari ini sudah tidak diperkenankan lagi masuk kota, tapi sesuai permintaan pengusaha, satu minggu ini kita uji coba dulu dan akan kami awasi. Mulai minggu depan, akan kami tertibkan,” tegas Kepala Satuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Kotawaringin Timur, AKP Boni Ariefianto di Sampit, Senin.
    Penegasan itu disampaikan Boni saat Rapat Forum Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dengan mengundang perusahaan transportasi atau jasa angkutan barang. Turut hadir dalam forum itu Kepala Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika, Fadlian Noor, Kepala Bidang Bina Marga Dinas Pekerjaan Umum, Masran Hadi dan Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan, Ahmad Syaifudi.
    Sorotan terhadap aktivitas truk angkutan di dalam kota kembali mengemuka setelah insiden tewasnya seorang siswi SMAN 4 Sampit akibat terlindas truk bermuatan crude palm oil (CPO) atau minyak kelapa sawit, pekan lalu. Masyarakat mendesak pemerintah daerah dan aparat penegak hukum melarang truk melintas di dalam kota karena rawan memicu kecelakaan lalu lintas.
    Pemerintah daerah menegaskan angkutan CPO hanya boleh melintas di dalam kota pada pukul 22:00 WIB hingga 05:00 WIB. Aturannya sebenarnya sudah lama dan ditegaskan dalam peraturan daerah pada 2012 lalu, namun belum juga ditaati oleh pengusaha dan sopir angkutan barang.
    Truk angkutan tetap melintas di dalam kota untuk menuju maupun pulang dari Pelabuhan Bagendang. Mereka beralasan itu dilakukan karena “ring road” atau  jalan lingkar Selatan yang menjadi jalan pintas luar kota, rusak parah.
    “Kami minta waktu satu minggu untuk berkoordinasi karena kalau cuma kami yang menaati aturan itu tapi di tempat pembongkaran tidak menyesuaikan jam kerja mereka, sia-sia juga. Ini menyangkut pekerjaan orang banyak. Terkadang di sana bisa antre sampai dua hari di sana,” kata salah seorang peserta sosialisasi.
    Kepala Dishubkominfo Kotawaringin Timur, Fadlian Noor, mengatakan, pengaturan waktu melintas ini diberlakukan bagi angkutan dengan bobot melebihi delapan ton. Bagi truk yang sedang tidak membawa muatan, juga diminta memperhatikan waktu melintas agar tidak membuat macet saat jam sibuk atau ketika lalu lintas padat.
    “Pengaturan ini kita berlakukan sampai perbaikan “ring road” (jalan lingkar kota) selesai. Kalau di sana selesai, maka truk tidak boleh lagi lewat kota karena akan lewat sana semua. Pengusaha tolong bisa menaati ini,” harap Fadlian.
    Masyarakat mendesak agar pemerintah melarang truk masuk kota. Selain dapat mempercepat kerusakan jalan, masyarakat mengeluhkan karena banyak sopir yang membawa truk secara ugal-ugalan sehingga sangat membahayakan pengendara lain.(anjas)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com