• TPID : Energi Mampu Tekan Inflasi Sumsel

    0

    PALEMBANG, jurnalsumatra.com – Sektor energi dan pangan diprediksikan akan memberikan tekanan terhadap tingkat inflasi di Sumatera Selatan tahun 2016. Hal tersebut terungkap dalam Rapat Teknis Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumsel di ruang rapat bina praja, Kamis (28/1).

    Adapun resiko inflasi yang akan mempengaruhi di tahun ini, yakni dampak penyesuaian tarif tenaga listrik rumah tangga golongan 1.300 VA dan 2.200 VA. Kemudian, pengalihan pelanggan listrik dengan daya 900 VA ke daya 1.300 VA, penyesuaian harga elpiji 3 kilogram sebesar Rp 1.000 per kilogram.

    Masih ada lagi, resiko penerapan dana ketahanan energi pada penyesuaian harga BBM, mundurnya musim tanam memgakibatlan terlambat panen serta kurangnya pasokan beberapa komoditas pangan strategis. “Untuk itu, kendalikan pasokannya, ditambah dicukupi,”kata Kepala Perwakilan BI Palembang, Juli Budi.

    Lalu, sambung dia, kedua permintaannya dijaga, beras yang termasuk tinggi, untuk itu akan diverifikasi makanan agar permintaan beras tidak tinggi, terus pasokan berasnya ditambah produksinya ada distribusi diperbaiki konsumsinya dikurangi.

    Selain itu, koordinasi antara pemerintah daerah dengan instansi terkait guna menjaga tingkat inflasi tetap terjaga rendah. “Sebetulnya inflasi daerah merupakan koordinasi dari semua pihak. Nanti ada rilis dari BPS akan kelihatan inflasi di Januari berapa,”jelas dia.

    Untuk angka, diakuinya, tingkat inflasi pada tahun ini diperkirakan akan lebih tinggi dibandngkan dengan tahun sebelumnya. “Sepertinya tingkat inflasi akan tinggi. Untuk inflasi 2015 saja, Sumsel diangka 3,1 persen, masih lebih rendah dari angka nasional.”

    Untuk taun 2016, sambung dia, bisa saja tingkat inflasi diprediksikan pada 4 persen, itu angka prediksi secara nasional, dan kita harapkan tingkat inflasi Sumatera Selatan tahun ini masih dbawah target nasional dengan berkoordnasi melalui forum TPID ini.

    Adapun komoditas penyumbang inflasi terbesar yakni, rokok kretek filter 0,31 persen, lalu disusul bawang merah 0,29 persen, bahan bakar rumah tangga 0,23 persem, beras 0,2 peresen. Sedangkan potensi penyumbang deflasi yakni, bensin 0,51 persen, angkutan dalam kota 0,33 persen, cabai merah 0,24 persen, batubata 0,05 persen dan semen 0,04 persen. (yuyun)

  • iklan 3

  • Facebook JurnalSumatra





  • Comments are closed.

    Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com